Postingan

Parameter dalam Pertemanan

Gambar
  Dalam dinamika pertemanan, saya sempat dihadapkan pada dilema moral. Di mana, saya mesti memisahkan antara sosok yang kita sukai dan tindakan yang ia realisasi. Saya kerap berusaha membelah eksistensi seorang teman menjadi dua bagian. Di satu perspektif, saya membenci perilakunya. Namun, di perspektif lain, saya bersikeras tetap menyukai pribadinya. Akan tetapi, pasca saya pikir-pikir, membedah manusia sedemikian rupa merupakan perkara yang mustahil. Hal demikian, disebabkan setiap tindakan yang direalisasikan seseorang, pada dasarnya, merupakan pengejawantahan autentik dari value-value dan karakter yang ia miliki. Menurut perspektif saya, memahami keterikatan yang tak terpisahkan antara pribadi dan perilaku ini, membantu saya untuk bersikap lebih objektif dalam menilai sebuah pertemanan. Pertemanan sejati tidak semestinya dikonfigurasi di atas penyangkalan terhadap realitas pahit. Akan tetapi, menyadari bahwa tindakan seorang teman adalah cerminan dari karakter dirinya. Sehingg...

Mengapa Kita Sering Menghakimi?

Gambar
Dalam kehidupan dewasa ini, saya menyadari bahwa saya acap kali mengaplikasikan standar ganda tanpa menyadarinya. Umpamanya, saat saya terlambat, saya berdalih bahwa kemacetanlah penyebabnya. Namun, saat orang lain yang terlambat, saya dengan mudah mencap mereka sebagai pribadi yang tidak disiplin. Begitu pula saat presentasi. Apabila saya gugup, saya beralasan saya introvert. Namun, bila orang lain yang gugup, saya cenderung menganggap mereka inkompeten. Kemudian, saya menyadari, mengapa standar penilaian saya tiba-tiba berubah? Menurut perspektif saya, fenomena ini dialami oleh hampir semua manusia. Hal demikian, bukan serta-merta saya mempertontonkan bahwa saya dan mereka jahat, melainkan saya berbicara ihwal mekanisme otak dalam menilai sesama.  Kebanyakan dari kita, cenderung memaparkan perilaku orang lain berdasarkan faktor internal, yakni karakter mereka, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal, seperti situasi yang mereka hadapi. Antitesanya, saat kita sendiri melakukan kek...

Mengapresiasi Perjuangan di Balik Barang Tiruan

Gambar
Kita acap kali menghakimi apa yang tampak di permukaan, tanpa pernah menyelami proses panjang yang telah dilalui. Kita bak penonton yang sekedar menyaksikan ending , tanpa pernah memberikan andil dalam peluh perjuangan. Kemudian, dengan ringannya berujar, “Ah, hanya segitu saja.” Padahal, sesuatu yang kita anggap sepele, boleh jadi merupakan achievement yang dahulu hanya berani ia langitkan dalam doa dan impian. Tanpa disadari, metode kita memandang orang lain, sebenarnya merupakan cermin dari metode kita memandang diri sendiri. Dikala kita begitu mudah meremehkan, persoalannya bukan terletak pada apa yang mereka punya, melainkan pada hati kita yang belum khatam belajar bersyukur. Bagaimana mungkin kita tega menertawakan kebahagiaan seseorang, sementara eksistensi kita tidak pernah hadir dalam bagian tersulit hidupnya? Menjadi bijak dan berempati, itu mudah. Ini bukan lagi ihwal seseorang yang memilih untuk menghargai hal-hal kecil milik orang lain, dan bukan semata mempertontonkan so...

Seni Memutus Rantai Kesalahan

Gambar
Manusia melakukan kesalahan merupakan sebuah keniscayaan yang lumrah. Sebab, kekhilafan merupakan bagian dari proses belajar. Namun, frekuensi sebuah kesalahan, punya klasifikasinya tersendiri. Kesalahan yang dilakukan untuk pertama kali, dapat kita kategorikan sebagai ketidaksengajaan. Apabila kesalahan serupa berulang untuk kedua kalinya, hal tersebut mengindikasikan adanya unsur kesengajaan. Jika mencapai tiga kali, perilaku tersebut telah menjadi habit atau kebiasaan. Lebih dari itu atau pengulangan yang berkesinambungan, maka mencerminkan karakter orisinil atau integritas seseorang tersebut. Acap kali seseorang terpenjara dalam lingkaran permohonan maaf. Kalimat-kalimat seperti, “Mohon maaf, saya khilaf,” atau “Saya minta maaf, karena telah berbohong lagi,” yang diucapkan secara berulang, maka kehilangan esensi moralnya. Sebab, perilaku yang terjadi secara konsisten dan berkesinambungan, bukan lagi sebuah problematika, melainkan pengejawantahan dari rangkaian kepribadian seseora...

Mengapa Perubahan Hanyalah Milik Pribadi?

Gambar
Perubahan merupakan sebuah keniscayaan bagi manusia. Akan tetapi, ia mempunyai satu sifat mutlak, yakni tidak dapat senantiasa dipaksakan dari eksternal. Acap kali, kita merasa terusik oleh sikap atau tabiat seseorang yang menurut hemat kita, tidak ideal. Sehingga, kehendakan untuk memperbaiki orang lain merupakan dorongan yang manusiawi. Namun, apabila nawaitu tersebut dibersamai dengan ekspektasi yang hiperbola, maka kekecewaan hampir niscaya menjadi akhir ceritanya. Seberapa besar pun energi dan usaha yang kita kerahkan guna mengubah seseorang, semua itu bakal sia-sia, apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan internal untuk berbenah. Mengapa demikian? Sebab, perubahan yang hakiki, memerlukan izin dari pemilik diri. Tanpa adanya kesadaran dari internal, maka segala intervensi eksternal, hanyalah kebisingan yang tidak akan mengubah pengaturan fundamental atas karakter seseorang. Ada sebuah kalimat yang menggambarkan hal demikian, yakni “Bila mereka mau, mereka akan melakukanny...

Dialektika dalam Menjemput 2026

Gambar
Mengelola sederet target dan gagasan, bukanlah perkara mudah. Sebab, faktanya, masih ada sederet impian yang belum berhasil terealisasi. Namun, di balik itu semua, terdapat kristalisasi pembelajaran yang lahir dari rangkaian kegagalan yang mengharuskan kita berhenti sebentar. Sikap skeptis juga telah mengajarkan makna jeda. Sedangkan kelelahan, secara perlahan telah menempa ketahanan diri saya. Tahun 2025 bukan semata ihwal pencapaian yang gemilang, melainkan pula ihwal kesadaran komprehensif atas parameter, orientasi, dan esensi dari setiap upaya. Apa yang belum terejawantah, bukanlah sebuah akhir. Namun, bekal fundamental guna melangkah secara lebih jujur pada tahun 2026. Ketika ditinjau dari dua perspektif, rasa kecewa maupun penolakan, bukanlah bentuk kegagalan atas peristiwa yang terjadi. Namun, kegagalan dalam cara kita menyikapi. Kita bukanlah figur krusial yang mesti senantiasa diprioritaskan dalam setiap kepentingan. Menyadari realitas tersebut, bukanlah bentuk degradasi diri,...

Enam Puluh Lima Hari Merajut Asa dan Cerita di Desa Budi Mulya

Gambar
Pertemuan kita bermula pada 25 Oktober 2025. Sejak saat itu, kita mulai menapaki perjalanan panjang selama 65 hari dalam bingkai KKN. Menjadi bagian dari kelompok ini merupakan sebuah kejutan yang tak pernah saya prediksi sebelumnya. Maklum, selama perkuliahan di kampus, wajah kalian jarang sekali tertangkap oleh mata maupun ingatan saya. Namun, saya cukup yakin, kalian pastinya tidak merasa asing mendengar dan melihat wajah saya, bukan? Saya masih ingat dengan jelas momen pertama kita saat Pembekalan KKN. Kala itu, suasana dilingkupi skeptisisme. Saya melihat kalian tampak enggan untuk unjuk gigi, hingga kecemasan sempat menyelinap di benak saya. Akan tetapi, perlahan kecemasan itu melebur saat saya memutuskan untuk mengambil langkah pertama, menjadi pemantik guna menggerakkan semangat kalian semua. Ingatkah kalian momen saat kita melakukan Survei Lokasi KKN? Sungguh menggelitik bila dikenang kembali, ya. Meskipun almamater dan sepeda motor kita basah kuyup dihantam air deras yang jat...

Manifestasi Spirit Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara oleh Ahmad Fauzi Muhana dalam Sejarah Baru KKN Angkatan XXVII IAI Darul Ulum Kandangan

Gambar
Realisasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XXVII Institut Agama Islam (IAI) Darul Ulum Kandangan tahun ini, menorehkan tinta emas dalam lembaran histori institusi. Momentum demikian, menjadi istimewa. Sebab, untuk pertama kalinya, Program Studi Hukum Tata Negara (HTN), resmi mendelegasikan mahasiswa angkatan pertamanya untuk terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat. Sebagai garda terdepan dari program studi baru, para mahasiswa ini memikul amanah signifikan guna membuktikan relevansi keilmuan tata negara dalam wadah pengabdian sosial. Ahmad Fauzi Muhana, yang merupakan salah satu mahasiswa angkatan perdana Program Studi Hukum Tata Negara di IAI Darul Ulum Kandangan, menyambut penugasan ini dengan antusiasme tinggi dan spirit yang menyala. Menyadari posisinya sebagai pionir, Fauzi tidak melangkah dengan tangan kosong. Ia telah merealisasikan sederet preparation komprehensif, mulai dari pengamatan hingga merealisasikan diskusi dengan para tokoh mahasiswa lintas program studi, demi me...

Romantisme yang Sebenarnya

Gambar
Kepuasan dalam sebuah hubungan, acapkali terhalang oleh jeratan ekspektasi pribadi, terutama ihwal definisi romantis itu sendiri. Sudah menjadi hal yang niscaya, di mana seseorang kerap merasa pasangannya kurang romantis, sebab ia tidak memenuhi standar klisenya. Umpamanya, jarang menggandeng tangan di muka umum, jarang memberi kejutan, ataupun memberi bunga. Padahal, sudahkah kita memahami esensi sesungguhnya dari romantisme? Bagi saya, romantisme bukan semata mengikuti rutinitas ataupun standar sosial yang dipaksakan masuk ke dalam relasi. Romantisme adalah tentang upaya kolaboratif antara kedua belah pihak untuk menjaga atmosfer dalam hubungan, agar perasaan jatuh cinta dapat terus dirasakan secara berulang dan berkesinambungan, walaupun hubungan telah terjalin lama. Bahkan, ketika kita telah mengetahui segala kekurangan pasangan, kita masih bisa tertawa saat melihat tingkah lakunya yang menggemaskan ataupun menjengkelkan. Bentuk romantisme bukan semata terbatas pada pemberian bunga...

Mengurai Polemik Tayangan Trans 7: Jalan Keluar dari Sentimen

Gambar
Tayangan Trans 7 yang memantik polemik belakangan ini, telah melahirkan pertanyaan fundamental, apakah konten tersebut betul-betul keliru? Lepas dari problematika konten tersebut, saya sungguh prihatin melihat setiap kegaduhan di ruang publik kita, terutama di media sosial, senantiasa berakhir pada transaksi sentimen. Problematika substansi, acapkali tenggelam dalam pusaran emosionalitas dan rasa tersinggung belaka. Oleh sebab itu, mari kita telaah isu ini dari beberapa perspektif yang lebih jernih dan rasional. A. Maksud Kritik dan Kekeliruan Sasaran Trans 7 Dugaan kuat saya, Trans 7 berupaya menyampaikan kritik terhadap sebuah tradisi. Ironisnya, upaya tersebut jatuh ke dalam lubang subjektivitas yang fatal. Alih-alih menjadikan tradisi feodalisme sebagai objek kritik utamanya, mereka justru mengkritik kehidupan kyai dan santri di ponpes. Lebih jauh, narasi tayangan tersebut disayangkan karena diduga mengarah pada institusi dan figur kyai yang sangat dihormati. Intensi untuk mengkrit...

Bukan Tak Cinta, Hanya Saja Terbiasa Lupa

Gambar
Statement ihwal pasangan yang sering lupa memberikan kabar meskipun telah diingatkan berulang kali, kerap melahirkan interpretasi bahwa hal tersebut merupakan sebuah indikasi berkurangnya kasih sayang atau sikap apatis. Secara rasional, interpretasi semacam ini, perlu ditinjau lebih dalam. Kecenderungan lupa berkabar, acapkali bukan bersumber dari niat buruk ataupun perubahan perasaan, melainkan dari pengejawantahan pola perilaku yang telah menjadi kebiasaan. Dari perspektif lain, banyak tindakan manusia yang beroperasi secara otomatis, terlepas dari kondisi emosionalnya dewasa ini. Umpamanya, seseorang yang sejak kecil tidak mempunyai kebiasaan melaporkan aktivitasnya kepada orang tua ataupun kakaknya. Maka, akan secara inheren membawa pola ketidakterbiasaan tersebut ke dalam hubungan asmaranya. Dalam hal demikian, perilaku tersebut merupakan respons otomatis dari kebiasaan, bukan keputusan sadar yang didorong oleh minimnya perhatian. Terkadang, kita cenderung melakukan atribusi inter...

Jatuh Cinta Berlebihan Pasca Kesepian

Gambar
Sebagian orang menunjukkan reaksi yang berlebihan ketika jatuh cinta, terutama pasca melewati masa kesepian yang panjang. Kondisi demikian, acapkali dipicu oleh kekosongan emosional yang telah lama dirasakan. Seseorang yang telah lama mengalami kesepian, rentan terhadap lonjakan intensitas perasaan yang tiba-tiba hadir. Ketika kehadiran seseorang yang baru mampu mengisi ruang hampanya, rasa senang yang timbul, begitu kuat. Seseorang tersebut, bak seolah-olah menemukan sumber kebahagiaan dan warna baru dalam hidupnya, yang sebelumnya terasa hambar atau abu-abu. Perasaan demikian, menciptakan euforia signifikan, yang acapkali diterjemahkan menjadi sikap mencintai yang melampaui batas kewajaran (berlebihan). Jatuh cinta pasca-kesepian panjang, juga kerap memicu kemelekatan emosional. Sebab, seseorang tersebut bukan semata mencintai pasangannya, melainkan pula melekat pada rasa hangatnya, amannya, dan terisi yang dibawa oleh presensi pasangannya. Rasa ini menjadi begitu berharga, sebab sek...

Selingkuh Adalah Cermin dari Kualitas Diri yang Rendah

Gambar
Perselingkuhan bukan semata kekeliruan atau kekhilafan lumrah dalam suatu hubungan, melainkan sebuah indikator konkrit betapa rendahnya kualitas diri seseorang. Menurut saya, paradigma ini perlu senantiasa ditegakkan. Sebab, di tengah banjir teknologi dewasa ini, kebiasaan buruk ini terkadang disalahartikan sebagai sebuah pencapaian ataupun bukti daya tarik. Padahal, faktanya justru berkebalikan. Orang yang betul-betul mempunyai kualitas diri yang unggul, seperti integritas, harga diri, dan kedewasaan emosional, bakal memandang perselingkuhan sebagai sebuah kemewahan yang tidak terjangkau. Bukan karena eksklusivitas materi, melainkan karena prinsip. Mereka sadar betul akan citra diri dan prinsip yang mereka junjung tinggi. Bagi mereka, mempertahankan integritas, jauh lebih bernilai. Mereka akan memilih untuk single dalam waktu yang panjang, daripada harus menurunkan level dan mengkhianati komitmen yang telah dibuat. Keputusan untuk setia merupakan cerminan dari kontrol diri dan apresia...

Presentasi Selama Satu Semester?!

Gambar
Fenomena penugasan presentasi mahasiswa secara berkesinambungan selama satu semester, telah menjadi sorotan serius dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia hari ini. Praktik ini ditengarai bukan semata anomali, melainkan telah meluas dan menciptakan pertanyaan fundamental ihwal kualitas pengajaran dan seorang dosen. Skenario yang umum terjadi adalah dosen pada pertemuan pertama, hanya mengedarkan silabus yang mayoritas subtansinya adalah jadwal presentasi kelompok, dan itu biasanya dimulai dari pertemuan kedua hingga akhir semester. Dalam perealisasiannya, dosen acapkali kurang dan bahkan tidak berperan secara aktif. Dosen cenderung duduk di belakang ataupun diam di tempat. Terkadang sibuk dengan gawai ataupun menatap laptop. Bahkan, dalam kasus terburuk, dosen tidak hadir di kelas. Kondisi demikian, tentunya menyulitkan mahasiswa yang kemudian mengajar teman-temannya hanya dengan pengetahuan seadanya, ditambah menggunakan materi presentasi yang kadang kala dibuat secara SKS (Siste...

Kedewasaan Mahasiswa dalam Diferensiasi Perkuliahan

Gambar
Perjalanan perkuliahan dan pertumbuhan pribadi mahasiswa, sesungguhnya merupakan proses yang relatif dan khas bagi setiap entitas. Bak dua tanaman yang tumbuh berdampingan, keduanya mendapatkan perawatan, baik air, sinar matahari, dan perlindungan dari angin sebagai simbol lingkungan pendidikan dan pengayaan pengetahuan yang setara. Namun, ketidakhomogenan perkembangan, semestinya menjadi hal yang alamiah. Karena, setiap entitas mempunyai potensi, motivasi, dan kapasitas tersendiri. Ketika salah satu tanaman mulai tumbuh lebih besar dengan akar yang lebih dalam serta cabang yang lebih lebar, ini mengindikasikan adanya proses internalisasi ilmu yang lebih masif, dan kedewasaan berpikir, serta perluasan cakrawala intelektual. Dalam perkuliahan, hal demikian memperlihatkan akan pemahaman yang komprehensif, petualangan intelektual, dan keperluan guna memperoleh ruang kebebasan berinovasi yang lebih luas. Pada level ini, menyelaraskan lingkungan akademik dan strategi belajar, menjadi amat k...

Perspektif Menentukan Rasa

Gambar
Tahukah Anda, bahwa pemicu prioritas perasaan tersakiti, acapkali bukanlah karena niat jahat orang lain, melainkan karena disparitas cara mereka merasakan dan memahami suatu hal dibandingkan kita. Pernahkah terlintas dalam benak kita, bahwa hal yang kita anggap sangat menyakitkan, di dunia mereka bisa jadi hanyalah sesuatu yang biasa? Tidak dianggap serius, tidak dimasukkan ke dalam hati, bahkan terkadang tidak terpikirkan sama sekali. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Alasannya, setiap individu mempunyai value-value internal yang berbeda. Disparitas ini berasal dari latar belakang tumbuh kembang yang tidak serupa, prioritas yang dianggap krusial, dan apa yang kita anggap tidak pantas, bisa jadi hal kecil bagi mereka. Sebagai contoh, apabila seseorang tumbuh di lingkungan yang mengajarkan kepekaan, maka seseorang tersebut akan merasa terganggu saat ada orang berbicara sembarangan. Namun, apabila seseorang tumbuh dengan candaan yang keras dan ceplas-ceplos, seseorang tersebut tidak aka...

Menakar Aksi Demonstrasi serta Insiden Tragis di Jakarta dan sekitarnya

Gambar
Aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada akhir Agustus 2025 ini merupakan manifestasi dinamika demokrasi Indonesia yang sarat dengan tuntutan transformasi public policy. Aspirasi yang disuarakan, mulai dari penolakan kenaikan tunjangan anggota DPR di tengah krisis ekonomi, desakan penuntasan kasus dugaan korupsi, hingga dorongan pemakzulan pejabat negara, pada hakikatnya merupakan bentuk perealisasian hak konstitusional warga negara guna menyuarakan pendapat di muka umum, sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998. Dengan demikian, demonstrasi bukan semata aksi jalanan belaka, melainkan instrumen demokrasi guna mengartikulasikan suara politik rakyat. Namun, dikala massa menembus pagar utama gedung parlemen, ketegangan pun meningkat. Situasi demikian melahirkan dilema klasik antara kebebasan menyuarakan pendapat dengan kewajiban negara menjaga ketertiban umum. Aparat keamanan, terutama Polri, ber...

Merajut Masa Depan Hukum di Tapin

Gambar
Saudara-saudaraku seperjuangan, sivitas akademika, dan seluruh insan keadilan! Kami, kelompok PROGRESIF (Profesional, Gelora, Sinergi, Futuristik) dengan lantang menyuarakan komitmen kami dalam mengawal tegaknya keadilan di bumi Ruhui Rahayu. Sebanyak sepuluh mahasiswa, angkatan perdana Program Studi Hukum Tata Negara, Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan, kini menapakkan jejak di Pengadilan Negeri (PN) Tapin dalam gelaran Praktikum Peradilan yang bakal berlangsung sejak 21 Juli - 22 September 2025. Sebagai pionir, kami mengemban amanah sejarah. Kami bukan semata peserta praktik belaka, melainkan representasi dari semangat pembaharuan hukum yang bergelora dalam sanubari mahasiswa. Dengan mengusung motto “ sokong tanpa sorotan, maju tanpa keraguan ”, kami berikrar guna mendedikasikan diri pada rangkaian yudisial, menelaah setiap detail perkara, dan adaptif terhadap kompleksitas sistem peradilan dengan penuh integritas. Kami hadir untuk belajar, mengamati, menganalisis, dan berkontr...

Masih Adakah Ruang Untuk Bertanya?!

Gambar
Saya rasa, literasi kita dewasa ini, masih kurang lengkap. Karena, ia tertinggal satu hal esensial, yakni bertanya. Ironis, bukan? Di tengah banjir informasi dan gembar-gembor progresivitas teknologi, kita justru kehilangan salah satu fondasi prioritas guna berpikir kritis dan komprehensif. Pasca kurang lebih tiga tahun saya berkuliah, saya terkadang dihadapkan dengan sistem yang secara absurd menilai baiknya seseorang lewat siapa yang cepat menjawab, bukan melulu memberi ruang bagi siapa yang berani bertanya. Ini bukan semata kebetulan. Dari saya kecil, saya acap kali diajarkan untuk menjawab. Maksudnya, menjawab dengan benar, maka memperoleh nilai tinggi. Sedangkan menjawab dengan cepat, maka dianggap anak pintar. Lalu, saya pun lupa, kapan saya diminta atau diberi ruang untuk bertanya? Terkadang, memang ada ruang tersebut. Namun, sempitnya minta ampun. Karena, lebih didominasi pemaparan materi, daripada ruang untuk berdiskusi, berdialektika, apalagi menggali kedalaman substansi. Say...

Jangan Biarkan Mood Menjajah Produktivitasmu

Gambar
Kita semua pastinya mendamba produktivitas yang membara. Akan tetapi, tak jarang, kita terperosok dalam jebakan distraksi, terbius oleh layar gawai, dan akhirnya terdampar dalam belenggu rebahan. Niat sudah menggebu-gebu di dada, tapi hanya dalam sekejap mata, guliran jari di media sosial, menjelma menjadi jam-jam yang terbuang sia-sia. Kita tahu, di relung hati terdalam, ada segudang impian dan hal krusial yang menanti untuk dicapai. Akan tetapi, acap kali ketika hendak memulai, rasa sulit justru menghimpit diri, bahkan kita meremehkan kapabilitas diri sendiri. Saya rasa, dewasa ini, rasa pesimisme tengah menjadi virus yang menggerogoti kita. Sehingga, hal tersebut, melumpuhkan aksi. Lantas, apa sebetulnya akar problematikanya? Problematikanya bukan niat kita yang keliru ataupun defisit, tapi kita yang terlalu terbelenggu dalam kerumitan cara kerja, dan menganggapnya sebagai rintangan yang tak tertaklukkan. Bahkan, yang tak kalah berbahayanya adalah menunggu mood baik. Mengapa demikia...

Keseringan Menunda

Gambar
Kadangkala, semua konsep sudah tertata dalam kepala. Namun, rasa takut akan gagal, acap kali membuat ketertataan tadi menjadi rancu. Alhasil, “nanti dulu deh”, mulai tumbuh dan bahkan mengakar dalam kepalanya. Sebetulnya, gagal adalah hal biasa. Namun, ketakutan akan gagal yang nir-proporsional, itu yang bahaya. Karena, hal tersebut, dapat berimplikasi pada ketiadaan pergerakan dalam aktivitas produktif. Umpamanya, kita kadang pernah merasa punya gagasan dan rencana, serta semangat menyala. Namun, dikala waktunya eksekusi, tiba-tiba lahir sebuah pikiran, “nanti aja deh”. Padahal, semakin lama kita menunda, maka bakal semakin banyak aneka macam alasan yang kita buat sendiri untuk menghindari eksekusi, entah itu alasan yang kita buat secara sadar ataupun tidak. Apabila kita telaah lagi, problemnya bukan digagal, melainkan pikiran kita yang terlalu disibukkan dengan pemikiran tentang hal-hal buruk. Banyak diantara kita, lebih takut malu daripada gagal. Takut dicibir, takut diremehkan, tak...

Perempuan Perlu Kepastian?!

Gambar
Berbeda dari tulisan-tulisan saya sebelumnya, tulisan ini bakal menyuguhkan salah satu fakta yang kiranya bisa menyayat hati para laki-laki, yakni perempuan bakal meninggalkan laki-lakinya, apabila ia lambat berproses. Pasca berselancar di internet, rata-rata perempuan, punya perspektif serupa akan hal tersebut. Mereka berargumen bahwa mereka tidak terlalu punya banyak waktu. Walaupun demikian, bukan berarti mereka enggan berjuang secara kolektif dengan laki-lakinya, tapi mereka hanya ingin kepastian dari laki-lakinya. Saya rasa, dihadapan laki-laki, beberapa perempuan berucap bahwa dia tidak perlu semuanya serba simsalabim mesti tunai hajatnya hari ini. Namun, dia hanya ingin tahu, bahwa laki-lakinya tengah berada dalam perjalanan menuju muara yang mereka berdua idamkan. Ingin tahu yang dimaksud tersebut, dapat kita terjemahkan sebagai ingin tahu bahwa laki-lakinya tengah berusaha dan bukan semata berjalan ditempat belaka. Karena, perempuan pun sadar, bahwa umurnya bakalan terus berta...

Harta Paling Berharga Adalah Waktu

Gambar
Salah satu harta paling berharga di kehidupan adalah waktu. Walaupun demikian, kita acap kali menyianyiakan waktu. Kadangkala, kita punya waktu seharian, tapi dikala malam hari tiba, justru bingung, ataupun pasca beraktivitas seharian, kita merasa ada hal yang tidak beres. Bila hal tersebut terjadi, bisa saja ada satu hal kecil yang kerap kita abaikan. Bila kita telaah, sebenarnya problemnya bukan diwaktu, melainkan dicara kita mengisi waktu.  Beberapa orang mengira bahwa kita perlu lebih banyak waktu untuk merealisasikan sesuatu. Itu benar, tiada yang keliru. Namun, bisa jadi keliru karena kita tidak sadar membuang energi ke sesuatu yang nir-produktif. Contoh konkritnya adalah merasa sibuk sekali, padahal seharian sibuknya hanya bermain gawai, nonton film, dan membalas chat. Ketika malam tiba, kita justru baru sadar dan merasa kosong. Karena, merasa seharian hanya memperoleh hal-hal yang nir-manfaat. Dari aktivitas tersebut, kita sadar, bahwa bukan aktivitasnya yang keliru, melain...