Jatuh Cinta Berlebihan Pasca-Kesepian
Jatuh cinta pasca-kesepian panjang, juga kerap memicu kemelekatan emosional. Sebab, seseorang tersebut bukan semata mencintai pasangannya, melainkan pula melekat pada rasa hangatnya, amannya, dan terisi yang dibawa oleh presensi pasangannya. Rasa ini menjadi begitu berharga, sebab sekian lama telah absen.
Selain itu, kesepian dapat pula direlevansikan dengan keperluan yang belum terpenuhi, seperti validasi, atensi, dan rasa mempunyai. Sebab, saat cinta datang, maka keperluan ini seolah-olah terpenuhi secara drastis. Sehingga, seseorang tersebut secara tidak sadar, memosisikan pasangan sebagai satu-satunya sumber pemenuhan keperluan itu. Intensitas ini, dalam beberapa kasus, dapat melahirkan perilaku posesif atau terobsesi.
Meskipun demikian, di balik intensitas tersebut, tersembunyi kerapuhan yang krusial untuk disadari. Ketika seseorang tersebut terlalu melekatkan kebahagiaan dan stabilitas emosionalnya pada presensi orang lain (pasangannya), bukan pada dirinya sendiri, maka sedikit perubahan sikap atau potensi kepergian pasangan, dapat memicu keruntuhan mental secara instan. Hal demikian terjadi sebab fondasi kebahagiaan diletakkan pada faktor eksternal.
Sebetulnya, mencintai merupakan hal yang lumrah, dan perasaan intens saat jatuh cinta juga manusiawi. Namun, kunci dari hubungan yang sehat adalah proporsionalitas.
Oleh sebab itu, sebelum kehadiran orang lain menyajikan warna, setiap orang kiranya wajib mempelajari cara mengisi dan mewarnai hari-hari serta kekosongan diri sendiri terlebih dahulu. Sebab, kesiapan emosional yang matang merupakan fondasi untuk hubungan yang stabil. Cinta semestinya berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurna, bukan sebagai satu-satunya penopang kehidupan emosional. Dengan demikian, intensitas cinta menjadi perayaan, bukan upaya keputusasaan untuk melarikan diri dari kesendirian.

Komentar
Posting Komentar