Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Seni Mencintai Orang yang Sama

Gambar
Ada satu seni yang indah dan punya nilai tinggi, yakni konsisten mencintai satu orang. Hal ini bukan sekadar seberapa sering seseorang melafalkan dan mengetik kata sayang, melainkan perihal konsensus untuk tetap bertahan meski terdapat sederet rasionalisasi guna beranjak pergi. Proses ini tentunya menuntut kesabaran yang sering kali tak kasatmata serta kesetiaan yang terus teruji oleh waktu. Di tengah hiruk-pikuk dunia dewasa ini yang sering menawarkan kebosanan secara cepat, mencintai satu hati secara berulang kali adalah sebuah keberanian yang langka, sebagaimana Anda berani memulainya. Sebab, cinta yang bertahan lama bukan hanya perihal perasaan yang fluktuatif, melainkan sebuah pilihan sadar yang mesti senantiasa diperjuangkan. Tidak semua orang mampu menguasai seni ini, karena ia memerlukan tabungan waktu, ketabahan dalam menghadapi luka, serta ketulusan yang tidak dapat ditawar. "Berani memulai, berarti berani memperjuangkan."

Relasi Tanpa Strategi

Gambar
Dapatkah sebuah hubungan, baik dalam level perkenalan maupun kedekatan, dikonfigurasi tanpa melibatkan strategi komunikasi yang kompleks dan kiranya manipulatif? Menurut keyakinan saya, interaksi seseorang dewasa ini sering kali didominasi dalam perhitungan strategi. Misalnya, seseorang dengan sengaja menunda waktu membalas pesan demi membangun kesan sibuk, ataupun menyembunyikan antusiasme karena khawatir dianggap terlalu berlebihan. Taktik semacam ini justru memacetkan lahirnya komunikasi yang jujur dan tulus. Lantas, kenapa kita tidak beralih pada sikap otentik dalam menghadapi hal-hal tersebut?! Menurut perspektif saya, dengan mempertontonkan jati diri yang asli, kita dapat mengukur secara objektif sejauh mana level kecocokan dan koneksi yang terjalin. Bersikap inklusif ihwal nilai yang kita yakini dalam hidup serta berani memperlihatkan kekurangan pribadi bukanlah sebuah kelemahan, melainkan metode guna mengkonfigurasi fondasi kredibilitas sejak dini. Implementasi kejujuran akan h...

Sejarah Baru IAI Darul Ulum Kandangan: Munaqosyah Skripsi Perdana Program Studi Hukum Tata Negara

Gambar
Hari ini, sebuah narasi panjang yang saya susun rapi dari ribuan baris gagasan dan peluh kededikasian, akhirnya menemukan titik persinggahan yang paling mendalam lewat realisasi Munaqosyah Skripsi saya yang berjudul, "Penegakan Hukum Judi Online di Era Disrupsi: Implementasi Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 di Kabupaten Tapin". Realisasi Munaqosyah Skripsi Institut Agama Islam (IAI) Darul Ulum Kandangan kali ini, bukan semata menjadi ibadah akademik belaka, melainkan sebuah catatan sejarah baru bagi IAI Darul Ulum Kandangan. Saya dan kawan-kawan berdiri dengan rasa syukur yang mendalam, sebagai salah satu mahasiswa pertama dari Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, IAI Darul Ulum Kandangan yang sukses menuntaskan perjuangan hingga ke level ini. Menjadi bagian dari angkatan yang dianggap sebagai pionir merupakan sebuah kehormatan sekaligus beban moral yang saya dan kawan-kawan pikul dengan penuh kesadaran, guna membuktikan bahw...

Relasi Antarmanusia pada Dasarnya Bersifat Simbiotik

Gambar
Selain saya, orang lain pun turut mengamini bahwa dalam dinamika sosial, relasi antarmanusia pada dasarnya bersifat simbiotik. Dalam pembicaraan objektif, setiap manusia cenderung saling memanfaatkan satu sama lain guna mencapai kepentingan atau memenuhi hajat hidupnya masing-masing. Hal demikian, merupakan pengejawantahan pertukaran sosial yang lumrah demi menjaga keberlangsungan hidup dan hajat masing-masing. Akan tetapi, ketika kita masuk dalam pembicaraan moralitas, terutama ihwal konsep benar dan salah, maka penilaian menjadi lebih kompleks. Sebab, kebenaran bukanlah sebuah entitas tunggal yang inkrah dalam interaksi manusia, melainkan sebuah kodifikasi yang dipengaruhi oleh perspektif masing-masing. Disparitas latar belakang kebudayaan, pengalaman hidup, metode berpikir, dan kepentingan pribadi, menyebabkan setiap manusia punya standar moral yang berdiferensiasi . Kita semua tahu, bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang punya eksklusivitas. Untuk menutupi eksklusivitas terse...

Seni Mengapresiasi Diri Tanpa Terjebak Flexing

Gambar
Saya ada satu perspektif lain atas tulisan saya sebelumnya. Dimana, perspektif ini merupakan perspektif lain saya ketika diapresiasi. Saya sering sekali berlindung di balik dalih "rendah hati" . Padahal, realitanya saya tengah menghina diri sendiri. Kenapa demikian? Sebab, saat saya diapresiasi, saya berdalih, "Ah, ini sekedar keberuntungan." Kemudian, dikala saya sukses mencapai target, pikiran saya membisikkan, "Biasa saja, semua orang pun bisa melakukannya." Apakah sikap tersebut merupakan bentuk kesantunan? Ternyata, Tidak. Kondisi demikian merupakan sebuah bias kognitif. Dimana, seseorang secara berkesinambungan merendahkan kapabilitas pribadinya hanya karena merasa takut dianggap sombong oleh khalayak ataupun merasa cemas akan ekspektasi kesuksesannya di masa depan. Hati-hati, ya. Sebab, kata-kata adalah doa sekaligus cap. Apabila seseorang secara berkesinambungan menanamkan narasi bahwa "saya tidak mampu" , maka dengan perlahan dunia ...

Mengapa Orang Kompeten Merasa Menjadi Seorang Penipu?

Gambar
Ada satu hal dewasa ini yang baru saya sadari. Semakin tinggi level kecerdasan ataupun keahlian seseorang, sering kali ia justru merasa seperti seorang penipu. Mengapa demikian? Sebab, keadaan tersebut melahirkan ilusi bahwa seolah-olah seluruh kesuksesan seseorang, hanyalah sebuah kebetulan dan keberuntungan belaka. Umpamanya, ketika saya menorehkan prestasi maupun memperoleh apresiasi. Saya cenderung menolerir hal tersebut sebagai faktor keberuntungan. Bahkan, di balik apresiasi yang saya terima, sering kali lahir gejolak dipikiran saya yang terus membisikkan bahwa, "Sebenarnya, saya tidak sehebat yang mereka kira." Ternyata, pasca saya telaah, perasaan tersebut lebih sering menerkam seseorang yang punya kompetensi daripada mereka yang belum punya keahlian. Sehingga, kondisi demikian melahirkan skeptisisme bahwa eksistensinya belum dan bahkan tidak pantas berada pada posisi yang telah ia capai dewasa ini. Hal tersebut, terjadi sebab semakin seseorang memahami kompleksitas s...