Seni Mengapresiasi Diri Tanpa Terjebak Flexing
Saya sering sekali berlindung di balik dalih "rendah hati". Padahal, realitanya saya tengah menghina diri sendiri. Kenapa demikian? Sebab, saat saya diapresiasi, saya berdalih, "Ah, ini sekedar keberuntungan." Kemudian, dikala saya sukses mencapai target, pikiran saya membisikkan, "Biasa saja, semua orang pun bisa melakukannya." Apakah sikap tersebut merupakan bentuk kesantunan? Ternyata, Tidak.
Kondisi demikian merupakan sebuah bias kognitif. Dimana, seseorang secara berkesinambungan merendahkan kapabilitas pribadinya hanya karena merasa takut dianggap sombong oleh khalayak ataupun merasa cemas akan ekspektasi kesuksesannya di masa depan.
Hati-hati, ya. Sebab, kata-kata adalah doa sekaligus cap. Apabila seseorang secara berkesinambungan menanamkan narasi bahwa "saya tidak mampu", maka dengan perlahan dunia bakal memercayainya dan memperlakukan seseorang demikian.
Sebetulnya, menolerir pujian bukan selalu mengindikasikan kemuliaan, melainkan pengejawantahan pengabaian terhadap proses dan kerja keras yang telah seseorang lalui. Dunia saja sudah cukup keras bagi kita. Oleh sebab itu, jangan memperkeruh keadaan dengan menjadi musuh bagi diri sendiri.
Mari mengapresiasi diri. Sebab, mengapresiasi pencapaian bukanlah kesombongan, melainkan bentuk kejujuran terhadap kenyataan.

Komentar
Posting Komentar