Postingan

Romantisme yang Sebenarnya

Gambar
Kepuasan dalam sebuah hubungan, acapkali terhalang oleh jeratan ekspektasi pribadi, terutama ihwal definisi romantis itu sendiri. Sudah menjadi hal yang niscaya, di mana seseorang kerap merasa pasangannya kurang romantis, sebab ia tidak memenuhi standar klisenya. Umpamanya, jarang menggandeng tangan di muka umum, jarang memberi kejutan, ataupun memberi bunga. Padahal, sudahkah kita memahami esensi sesungguhnya dari romantisme? Bagi saya, romantisme bukan semata mengikuti rutinitas ataupun standar sosial yang dipaksakan masuk ke dalam relasi. Romantisme adalah tentang upaya kolaboratif antara kedua belah pihak untuk menjaga atmosfer dalam hubungan, agar perasaan jatuh cinta dapat terus dirasakan secara berulang dan berkesinambungan, walaupun hubungan telah terjalin lama. Bahkan, ketika kita telah mengetahui segala kekurangan pasangan, kita masih bisa tertawa saat melihat tingkah lakunya yang menggemaskan ataupun menjengkelkan. Bentuk romantisme bukan semata terbatas pada pemberian bunga...

Mengurai Polemik Tayangan Trans 7: Jalan Keluar dari Sentimen

Gambar
Tayangan Trans 7 yang memantik polemik belakangan ini, telah melahirkan pertanyaan fundamental, apakah konten tersebut betul-betul keliru? Lepas dari problematika konten tersebut, saya sungguh prihatin melihat setiap kegaduhan di ruang publik kita, terutama di media sosial, senantiasa berakhir pada transaksi sentimen. Problematika substansi, acapkali tenggelam dalam pusaran emosionalitas dan rasa tersinggung belaka. Oleh sebab itu, mari kita telaah isu ini dari beberapa perspektif yang lebih jernih dan rasional. A. Maksud Kritik dan Kekeliruan Sasaran Trans 7 Dugaan kuat saya, Trans 7 berupaya menyampaikan kritik terhadap sebuah tradisi. Ironisnya, upaya tersebut jatuh ke dalam lubang subjektivitas yang fatal. Alih-alih menjadikan tradisi feodalisme sebagai objek kritik utamanya, mereka justru mengkritik kehidupan kyai dan santri di ponpes. Lebih jauh, narasi tayangan tersebut disayangkan karena diduga mengarah pada institusi dan figur kyai yang sangat dihormati. Intensi untuk mengkrit...

Bukan Tak Cinta, Hanya Saja Terbiasa Lupa

Gambar
Statement ihwal pasangan yang sering lupa memberikan kabar meskipun telah diingatkan berulang kali, kerap melahirkan interpretasi bahwa hal tersebut merupakan sebuah indikasi berkurangnya kasih sayang atau sikap apatis. Secara rasional, interpretasi semacam ini, perlu ditinjau lebih dalam. Kecenderungan lupa berkabar, acapkali bukan bersumber dari niat buruk ataupun perubahan perasaan, melainkan dari pengejawantahan pola perilaku yang telah menjadi kebiasaan. Dari perspektif lain, banyak tindakan manusia yang beroperasi secara otomatis, terlepas dari kondisi emosionalnya dewasa ini. Umpamanya, seseorang yang sejak kecil tidak mempunyai kebiasaan melaporkan aktivitasnya kepada orang tua ataupun kakaknya. Maka, akan secara inheren membawa pola ketidakterbiasaan tersebut ke dalam hubungan asmaranya. Dalam hal demikian, perilaku tersebut merupakan respons otomatis dari kebiasaan, bukan keputusan sadar yang didorong oleh minimnya perhatian. Terkadang, kita cenderung melakukan atribusi inter...

Jatuh Cinta Berlebihan Pasca-Kesepian

Gambar
Sebagian orang menunjukkan reaksi yang berlebihan ketika jatuh cinta, terutama pasca melewati masa kesepian yang panjang. Kondisi demikian, acapkali dipicu oleh kekosongan emosional yang telah lama dirasakan. Seseorang yang telah lama mengalami kesepian, rentan terhadap lonjakan intensitas perasaan yang tiba-tiba hadir. Ketika kehadiran seseorang yang baru mampu mengisi ruang hampanya, rasa senang yang timbul, begitu kuat. Seseorang tersebut, bak seolah-olah menemukan sumber kebahagiaan dan warna baru dalam hidupnya, yang sebelumnya terasa hambar atau abu-abu. Perasaan demikian, menciptakan euforia signifikan, yang acapkali diterjemahkan menjadi sikap mencintai yang melampaui batas kewajaran (berlebihan). Jatuh cinta pasca-kesepian panjang, juga kerap memicu kemelekatan emosional. Sebab, seseorang tersebut bukan semata mencintai pasangannya, melainkan pula melekat pada rasa hangatnya, amannya, dan terisi yang dibawa oleh presensi pasangannya. Rasa ini menjadi begitu berharga, sebab sek...

Selingkuh Adalah Cermin dari Kualitas Diri yang Rendah

Gambar
Perselingkuhan bukan semata kekeliruan atau kekhilafan lumrah dalam suatu hubungan, melainkan sebuah indikator konkrit betapa rendahnya kualitas diri seseorang. Menurut saya, paradigma ini perlu senantiasa ditegakkan. Sebab, di tengah banjir teknologi dewasa ini, kebiasaan buruk ini terkadang disalahartikan sebagai sebuah pencapaian ataupun bukti daya tarik. Padahal, faktanya justru berkebalikan. Orang yang betul-betul mempunyai kualitas diri yang unggul, seperti integritas, harga diri, dan kedewasaan emosional, bakal memandang perselingkuhan sebagai sebuah kemewahan yang tidak terjangkau. Bukan karena eksklusivitas materi, melainkan karena prinsip. Mereka sadar betul akan citra diri dan prinsip yang mereka junjung tinggi. Bagi mereka, mempertahankan integritas, jauh lebih bernilai. Mereka akan memilih untuk single dalam waktu yang panjang, daripada harus menurunkan level dan mengkhianati komitmen yang telah dibuat. Keputusan untuk setia merupakan cerminan dari kontrol diri dan apresia...

Presentasi Selama Satu Semester?!

Gambar
Fenomena penugasan presentasi mahasiswa secara berkesinambungan selama satu semester, telah menjadi sorotan serius dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia hari ini. Praktik ini ditengarai bukan semata anomali, melainkan telah meluas dan menciptakan pertanyaan fundamental ihwal kualitas pengajaran dan seorang dosen. Skenario yang umum terjadi adalah dosen pada pertemuan pertama, hanya mengedarkan silabus yang mayoritas subtansinya adalah jadwal presentasi kelompok, dan itu biasanya dimulai dari pertemuan kedua hingga akhir semester. Dalam perealisasiannya, dosen acapkali kurang dan bahkan tidak berperan secara aktif. Dosen cenderung duduk di belakang ataupun diam di tempat. Terkadang sibuk dengan gawai ataupun menatap laptop. Bahkan, dalam kasus terburuk, dosen tidak hadir di kelas. Kondisi demikian, tentunya menyulitkan mahasiswa yang kemudian mengajar teman-temannya hanya dengan pengetahuan seadanya, ditambah menggunakan materi presentasi yang kadang kala dibuat secara SKS (Siste...

Kedewasaan Mahasiswa dalam Diferensiasi Perkuliahan

Gambar
Perjalanan perkuliahan dan pertumbuhan pribadi mahasiswa, sesungguhnya merupakan proses yang relatif dan khas bagi setiap entitas. Bak dua tanaman yang tumbuh berdampingan, keduanya mendapatkan perawatan, baik air, sinar matahari, dan perlindungan dari angin sebagai simbol lingkungan pendidikan dan pengayaan pengetahuan yang setara. Namun, ketidakhomogenan perkembangan, semestinya menjadi hal yang alamiah. Karena, setiap entitas mempunyai potensi, motivasi, dan kapasitas tersendiri. Ketika salah satu tanaman mulai tumbuh lebih besar dengan akar yang lebih dalam serta cabang yang lebih lebar, ini mengindikasikan adanya proses internalisasi ilmu yang lebih masif, dan kedewasaan berpikir, serta perluasan cakrawala intelektual. Dalam perkuliahan, hal demikian memperlihatkan akan pemahaman yang komprehensif, petualangan intelektual, dan keperluan guna memperoleh ruang kebebasan berinovasi yang lebih luas. Pada level ini, menyelaraskan lingkungan akademik dan strategi belajar, menjadi amat k...

Elegi Puncak Nurani Untuk Iga Dwi Febrianti

Gambar
Sabtu, 27 September 2025 merupakan hari yang agung. Di bawah panji kehormatan ilmu pengetahuan, izinkan segenap rasa dan sukma ku merangkai kata. Kau berdiri tegak, memancarkan aura keberhasilan yang selama ini kau rajut dalam senyap doa dan gigih upaya. Gelar S. Pd yang kini melekat pada mu, merupakan mahkota yang tersemat dari keringat, air mata, dan semangat tiada habisnya. Ingatlah, ini bukan semata indikasi akhir perjuangan akademis, melainkan permulaan dari babak bakti yang mulia, mendidik generasi, dan realisasi sebuah aksi. Meskipun kebersamaan kita terjalin saat engkau menapaki semester enam, aku sungguh bangga menyaksikan metamorfosismu, dari bimbang menjadi yakin, dan dari merangkak menjadi terbang. Setiap lembar diktat yang kau cerna, setiap diskusi yang kau cermati, dan setiap kata yang kau tuliskan, merupakan jejak langkah menuju puncak ini. Aku bangga! Lebih dari kata yang bisa diucapkan oleh lisan, dan lebih dari aksara tinta yang bisa direpresentasikan. Kini, kau telah...

Perspektif Menentukan Rasa

Gambar
Tahukah Anda, bahwa pemicu prioritas perasaan tersakiti, acapkali bukanlah karena niat jahat orang lain, melainkan karena disparitas cara mereka merasakan dan memahami suatu hal dibandingkan kita. Pernahkah terlintas dalam benak kita, bahwa hal yang kita anggap sangat menyakitkan, di dunia mereka bisa jadi hanyalah sesuatu yang biasa? Tidak dianggap serius, tidak dimasukkan ke dalam hati, bahkan terkadang tidak terpikirkan sama sekali. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Alasannya, setiap individu mempunyai value-value internal yang berbeda. Disparitas ini berasal dari latar belakang tumbuh kembang yang tidak serupa, prioritas yang dianggap krusial, dan apa yang kita anggap tidak pantas, bisa jadi hal kecil bagi mereka. Sebagai contoh, apabila seseorang tumbuh di lingkungan yang mengajarkan kepekaan, maka seseorang tersebut akan merasa terganggu saat ada orang berbicara sembarangan. Namun, apabila seseorang tumbuh dengan candaan yang keras dan ceplas-ceplos, seseorang tersebut tidak aka...

Menakar Aksi Demonstrasi serta Insiden Tragis di Jakarta dan sekitarnya

Gambar
Aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada akhir Agustus 2025 ini merupakan manifestasi dinamika demokrasi Indonesia yang sarat dengan tuntutan transformasi public policy. Aspirasi yang disuarakan, mulai dari penolakan kenaikan tunjangan anggota DPR di tengah krisis ekonomi, desakan penuntasan kasus dugaan korupsi, hingga dorongan pemakzulan pejabat negara, pada hakikatnya merupakan bentuk perealisasian hak konstitusional warga negara guna menyuarakan pendapat di muka umum, sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998. Dengan demikian, demonstrasi bukan semata aksi jalanan belaka, melainkan instrumen demokrasi guna mengartikulasikan suara politik rakyat. Namun, dikala massa menembus pagar utama gedung parlemen, ketegangan pun meningkat. Situasi demikian melahirkan dilema klasik antara kebebasan menyuarakan pendapat dengan kewajiban negara menjaga ketertiban umum. Aparat keamanan, terutama Polri, ber...

Aksi Konkrit Mahasiswa HTN: Dari Kampus ke Kursi Hakim, Merajut Masa Depan Hukum di Tapin!

Gambar
Saudara-saudaraku seperjuangan, sivitas akademika, dan seluruh insan keadilan! Kami, kelompok PROGRESIF (Profesional, Gelora, Sinergi, Futuristik) dengan lantang menyuarakan komitmen kami dalam mengawal tegaknya keadilan di bumi Ruhui Rahayu. Sebanyak sepuluh mahasiswa, angkatan perdana Program Studi Hukum Tata Negara, Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan, kini menapakkan jejak di Pengadilan Negeri (PN) Tapin dalam gelaran Praktikum Peradilan yang bakal berlangsung sejak 21 Juli - 22 September 2025. Sebagai pionir, kami mengemban amanah sejarah. Kami bukan semata peserta praktik belaka, melainkan representasi dari semangat pembaharuan hukum yang bergelora dalam sanubari mahasiswa. Dengan mengusung motto “ sokong tanpa sorotan, maju tanpa keraguan ”, kami berikrar guna mendedikasikan diri pada rangkaian yudisial, menelaah setiap detail perkara, dan adaptif terhadap kompleksitas sistem peradilan dengan penuh integritas. Kami hadir untuk belajar, mengamati, menganalisis, dan berkontr...

Ruang Bertanya

Gambar
Saya rasa, literasi kita dewasa ini, masih kurang lengkap. Karena, ia tertinggal satu hal esensial, yakni bertanya. Ironis, bukan? Di tengah banjir informasi dan gembar-gembor progresivitas teknologi, kita justru kehilangan salah satu fondasi prioritas guna berpikir kritis dan komprehensif. Pasca kurang lebih tiga tahun saya berkuliah, saya terkadang dihadapkan dengan sistem yang secara absurd menilai baiknya seseorang lewat siapa yang cepat menjawab, bukan melulu memberi ruang bagi siapa yang berani bertanya. Ini bukan semata kebetulan. Dari saya kecil, saya acap kali diajarkan untuk menjawab. Maksudnya, menjawab dengan benar, maka memperoleh nilai tinggi. Sedangkan menjawab dengan cepat, maka dianggap anak pintar. Lalu, saya pun lupa, kapan saya diminta atau diberi ruang untuk bertanya? Terkadang, memang ada ruang tersebut. Namun, sempitnya minta ampun. Karena, lebih didominasi pemaparan materi, daripada ruang untuk berdiskusi, berdialektika, apalagi menggali kedalaman substansi. Say...

Jangan Biarkan Mood Menjajah Produktivitasmu

Gambar
Kita semua pastinya mendamba produktivitas yang membara. Akan tetapi, tak jarang, kita terperosok dalam jebakan distraksi, terbius oleh layar gawai, dan akhirnya terdampar dalam belenggu rebahan. Niat sudah menggebu-gebu di dada, tapi hanya dalam sekejap mata, guliran jari di media sosial, menjelma menjadi jam-jam yang terbuang sia-sia. Kita tahu, di relung hati terdalam, ada segudang impian dan hal krusial yang menanti untuk dicapai. Akan tetapi, acap kali ketika hendak memulai, rasa sulit justru menghimpit diri, bahkan kita meremehkan kapabilitas diri sendiri. Saya rasa, dewasa ini, rasa pesimisme tengah menjadi virus yang menggerogoti kita. Sehingga, hal tersebut, melumpuhkan aksi. Lantas, apa sebetulnya akar problematikanya? Problematikanya bukan niat kita yang keliru ataupun defisit, tapi kita yang terlalu terbelenggu dalam kerumitan cara kerja, dan menganggapnya sebagai rintangan yang tak tertaklukkan. Bahkan, yang tak kalah berbahayanya adalah menunggu mood baik. Mengapa demikia...

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Gambar
Hari ini, bukan semata tanggal merah di kalender akademikmu, dan bukan pula selembar tanda kelulusan sidang skripsi biasa bagimu. Aku rasa, lebih dari itu. Hari ini merupakan momentum bersejarah, indikasi konkrit dari kemenangan intelektual dan ketangguhan semangat bak seorang pejuang. Dengan dada membuncah bangga, aku tegaskan, selamat atas penaklukanmu di medan Munaqasah ini, Sayang. Aku tahu betul, setiap aksara yang kamu rangkai, setiap literatur yang kamu lahap, dan setiap detik yang kamu curahkan untuk skripsimu, merupakan manifestasi konkrit dari komitmenmu sendiri terhadap kebenaran dan perubahan. Apakah ini perihal selembar ijazah belaka? Bukan! Ini merupakan satu langkah krusial dalam mengisi amunisi baru bagimu untuk terus lantang menyuarakan realitas yang hakiki. Bukan sekedar teori, tapi juga aksi. Hatur terima kasihku, rasanya belum cukup membalas setiap bimbingan yang kamu suguhkan padaku dikala aku tersesat dalam labirin di hutan belantara dunia akademik yang tengah kul...

Nanti Aja Deh

Gambar
Kadangkala, semua konsep sudah tertata dalam kepala. Namun, rasa takut akan gagal, acap kali membuat ketertataan tadi menjadi rancu. Alhasil, “nanti dulu deh”, mulai tumbuh dan bahkan mengakar dalam kepalanya. Sebetulnya, gagal adalah hal biasa. Namun, ketakutan akan gagal yang nir-proporsional, itu yang bahaya. Karena, hal tersebut, dapat berimplikasi pada ketiadaan pergerakan dalam aktivitas produktif. Umpamanya, kita kadang pernah merasa punya gagasan dan rencana, serta semangat menyala. Namun, dikala waktunya eksekusi, tiba-tiba lahir sebuah pikiran, “nanti aja deh”. Padahal, semakin lama kita menunda, maka bakal semakin banyak aneka macam alasan yang kita buat sendiri untuk menghindari eksekusi, entah itu alasan yang kita buat secara sadar ataupun tidak. Apabila kita telaah lagi, problemnya bukan digagal, melainkan pikiran kita yang terlalu disibukkan dengan pemikiran tentang hal-hal buruk. Banyak diantara kita, lebih takut malu daripada gagal. Takut dicibir, takut diremehkan, tak...

Perempuan Perlu Kepastian

Gambar
Berbeda dari tulisan-tulisan saya sebelumnya, tulisan ini bakal menyuguhkan salah satu fakta yang kiranya bisa menyayat hati para laki-laki, yakni perempuan bakal meninggalkan laki-lakinya, apabila ia lambat berproses. Pasca berselancar di internet, rata-rata perempuan, punya perspektif serupa akan hal tersebut. Mereka berargumen bahwa mereka tidak terlalu punya banyak waktu. Walaupun demikian, bukan berarti mereka enggan berjuang secara kolektif dengan laki-lakinya, tapi mereka hanya ingin kepastian dari laki-lakinya. Saya rasa, dihadapan laki-laki, beberapa perempuan berucap bahwa dia tidak perlu semuanya serba simsalabim mesti tunai hajatnya hari ini. Namun, dia hanya ingin tahu, bahwa laki-lakinya tengah berada dalam perjalanan menuju muara yang mereka berdua idamkan. Ingin tahu yang dimaksud tersebut, dapat kita terjemahkan sebagai ingin tahu bahwa laki-lakinya tengah berusaha dan bukan semata berjalan ditempat belaka. Karena, perempuan pun sadar, bahwa umurnya bakalan terus berta...

Harta Paling Berharga Adalah Waktu

Gambar
Salah satu harta paling berharga di kehidupan adalah waktu. Walaupun demikian, kita acap kali menyianyiakan waktu. Kadangkala, kita punya waktu seharian, tapi dikala malam hari tiba, justru bingung, ataupun pasca beraktivitas seharian, kita merasa ada hal yang tidak beres. Bila hal tersebut terjadi, bisa saja ada satu hal kecil yang kerap kita abaikan. Bila kita telaah, sebenarnya problemnya bukan diwaktu, melainkan dicara kita mengisi waktu.  Beberapa orang mengira bahwa kita perlu lebih banyak waktu untuk merealisasikan sesuatu. Itu benar, tiada yang keliru. Namun, bisa jadi keliru karena kita tidak sadar membuang energi ke sesuatu yang nir-produktif. Contoh konkritnya adalah merasa sibuk sekali, padahal seharian sibuknya hanya bermain gawai, nonton film, dan membalas chat. Ketika malam tiba, kita justru baru sadar dan merasa kosong. Karena, merasa seharian hanya memperoleh hal-hal yang nir-manfaat. Dari aktivitas tersebut, kita sadar, bahwa bukan aktivitasnya yang keliru, melain...

Orang Hebat Tidak Takut Dibenci

Gambar
Tidak mengapa semua orang bakal tidak suka dengan mu, dan itu tiada masalah. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika kamu berhenti untuk berkembang. Kadangkala, kita kerap dihantui dengan perasaan sedikit-sedikit overthinking, hanya karena takut pendapat kita ditolak. Kemudian, enggan mengeluarkan potensi, hanya takut dikatakan beda. Bahkan, kita terlalu fokus ingin membuat semua orang suka dengan kita. Padahal, orang hebat tidak mesti sibuk membuat orang lain suka, tapi sibuk membuat dirinya berkembang dan ini yang kerap kita lupakan. Sebetulnya, kita ingin tumbuh. Akan tetapi, masih takut dianggap aneh dan pick me (si paling beda). Beberapa diantara kita, masih terjebak di fase menyesuaikan diri supaya tidak dianggap beda sendiri, khawatir merubah diri justru membuat orang lari, dan menunda aksi besar hanya karena takut di-judge oleh orang yang iri. Padahal, realitasnya, rangkaian bertumbuh itu memang lahir dari ketidaknyamanan. Tolak ukur hebat, bukan semata disukai banyak orang ...

Menyusuri Jalan Penyelesaian Sengketa Perikatan

Gambar
Bayangkan Fauzi dan Akbar sepakat guna merealisasikan sesuatu, misalnya menjual rumah, menyewa kendaraan, atau mengerjakan proyek kolektif. Fauzi dan Akbar duduk bersama, saling mengangguk, hingga akhirnya membubuhkan tanda tangan. Inilah awal dari suatu perikatan, yakni relasi hukum antara Fauzi dan Akbar (dua pihak), yang mana satu pihak berhak menuntut dan pihak lain berkewajiban memenuhi. Kita tahu, bahwa hidup tidak senantiasa berjalan mulus. Terkadang, perikatan pun demikian. Perikatan yang awalnya lahir dari itikad baik, bisa saja berubah menjadi sumber sengketa. Salah satu pihak ingkar janji, atau kondisi lainnya yang tak terduga. Sehingga, membuat perjanjian tak terealisasi. Di sinilah, jalan penyelesaian sengketa itu hadir. Sengketa dalam perikatan bisa lahir dalam beraneka macam bentuk. Salah satunya adalah wanprestasi, yakni dikala pihak yang berkewajiban, gagal merealisasikan tugasnya sebagaimana mestinya. Umpamanya, Akbar sebagai penjual, tidak mengirim barang sesuai wakt...

Hari Ke-365

Gambar
Hallo, Perempuan ku. Debar jantungku, hari ini terasa lebih kencang dari biasanya. Menanti hari itu segera tiba, hari di mana waktu tidak lagi menjadi sekat di antara kita. Aku sangat merindukan saat-saat di mana setiap cerita yang terjalin, tanpa perlu lirikan cemas pada jam dinding. Terbayang jelas petualangan kita kelak, Sayang. Petualangan yang bukan semata tanpa tujuan. Namun, sebuah pelayaran dengan dermaga baru yang punya tujuan. Kita akan menapaki hari-hari dengan jejak langkah yang serupa, menuju muara kebahagiaan yang kita idamkan. Ah, betapa rindunya aku pada sofa empuk yang akan menjadi saksi bisu setiap canda dan tawa kita. Di sana, kita akan bercengkrama, sembari menyaksikan tarian hujan di balik jendela, dengan kehangatan dalam dekapan yang tak ingin ku lepaskan. Kita juga akan menjadi dua koki dadakan di dapur sederhana kita, dengan melahirkan keajaiban dari bahan-bahan yang kiranya asing di lidah kita. Janji kita terukir kuat, untuk mencicipi setiap hidangan, apapun ra...

Belajar Mentolerir Kritik

Gambar
Hari ini atau kapan pun, semua orang dapat menilai, tapi tidak semua orang siap dinilai balik. Ada salah satu reaksi atas sikap dinilai seseorang, yakni tersinggung. Sebetulnya, dinilai seseorang itu dapat membuat kita tumbuh dan berkembang. Akan tetapi, kita mesti punya mental baja guna mentolerir seluruh bentuk penilaian orang lain dengan lapang dada dan senyuman. Menurut segelintir orang, kritik diterjemahkan sebagai serangan. Padahal, kritik merupakan alternatif untuk seseorang naik level (bagi yang siap). Dalam benak diri seseorang, pasti ada terlintas ingin berkembang. Namun, ironisnya, justru lari ketika diterpa kritik. Bila diingat-ingat lagi, pernahkah kita merasa tersinggung, padahal niat seseorang hanyalah memberi saran untuk kita? Ironisnya, seseorang tersebut belum selesai berucap, kita justru menyela dengan membela diri. Kenapa, ya?! Bila kita telaah, seseorang yang membela diri ketika dikritik ataupun diberi saran, sebetulnya ia hanya mempertontonkan sikapnya agar membua...

Si Paling Benar

Gambar
Dalam kehidupan, ada satu hal yang menyenangkan, yakni merasa paling benar. Akan tetapi, di balik kesenangan tersebut, terdapat sederet bahaya yang menyertainya, salah satunya adalah membuat seseorang berhenti belajar. Kadangkala, seseorang tak sadar, merasa serba tahu itu, memang terasa menyenangkan sekali. Akan tetapi, dari sanalah ego mulai menggerogoti telinganya, hingga tertutup telinganya. Semakin sering seseorang merasa dibenaknya, “ aku yang paling benar ”, maka semakin mengecil pula space untuk tumbuh terbuka. Disparitas perspektif yang menjadi debat kecil, justru tumbuh menjadi debat panjang akibat salah satu pihak tidak mau mengalah. Mengapa demikian? Sebab, dua kalimat berikut acap kali mengeruhkan pikiran kita, yakni “ Jikalau aku mengalah, berarti aku kalah dong! ”, dan “ Perspektif ku punya dasar dan terverifikasi, hanya dia saja yang tidak mengerti ”. Padahal, banyak yang berawal dari perselisihan kecil itu lahir bukan disebabkan siapa yang benar ataupun salah, tapi dis...