Selingkuh Adalah Cermin dari Kualitas Diri yang Rendah
Orang yang betul-betul mempunyai kualitas diri yang unggul, seperti integritas, harga diri, dan kedewasaan emosional, bakal memandang perselingkuhan sebagai sebuah kemewahan yang tidak terjangkau. Bukan karena eksklusivitas materi, melainkan karena prinsip. Mereka sadar betul akan citra diri dan prinsip yang mereka junjung tinggi.
Bagi mereka, mempertahankan integritas, jauh lebih bernilai. Mereka akan memilih untuk single dalam waktu yang panjang, daripada harus menurunkan level dan mengkhianati komitmen yang telah dibuat. Keputusan untuk setia merupakan cerminan dari kontrol diri dan apresiasi terhadap pasangan serta diri sendiri.
Maka dari itu, kepemilikan banyak pasangan atau kedekatan dengan banyak lawan jenis, bukanlah bukti bahwa seseorang itu menarik atau laku keras. Antitesanya, hal tersebut merupakan bukti konkrit dari kualitas diri yang belum matang.
Ada dua kemungkinan mengapa seseorang mudah sekali berganti atau menambah pasangan:
1. Harga Diri yang Murah: Sesuatu yang dijual dengan harga murah dan mudah didapatkan, maka akan senantiasa menarik pembeli, tanpa menuntut kualitas dari penjual. Hal demikian, mempertontonkan bagaimana seseorang menghargai komitmen dan dirinya sendiri dalam suatu hubungan.
2. Kualitas Diri yang Rendah: Seseorang yang tidak cukup mumpuni secara emosional, spiritual, ataupun intelektual, acapkali memerlukan validasi eksternal secara berkesinambungan guna mengisi kekosongan batinnya.
Ironisnya, individu yang paling rentan berselingkuh adalah mereka yang merasa minim dihargai atau minim memperoleh atensi dalam kehidupan sehari-hari, terlepas dari penampakan eksternalnya. Oleh karena itu, ketika mereka baru pertama kali memperoleh atensi atau ketertarikan lebih dari satu orang (selain pasangan), maka mereka langsung keliru dan mengasumsikannya sebagai sebuah prestasi.
Padahal, bagi orang yang memang berintegritas dan mempunyai daya tarik yang hakiki, validasi dari orang lain bukanlah hal baru ataupun langka. Karena, mereka sudah terbiasa dengan atensi. Sehingga, tidak mudah terdistraksi atau tergoda oleh sanjungan fana. Mereka mempunyai validasi internal yang kuat dan tidak melekat pada pujian ataupun lirikan pihak ketiga.
Bagi pembaca yang membaca tulisan ini, inilah saatnya untuk bercermin dan berbenah!
Apabila kita pernah atau tengah berselingkuh, cobalah pahami bahwa tindakan itu tidak membuat kita lebih superior. Justru, mempertontonkan adanya lubang besar dalam diri yang perlu diisi. Memangnya, validasi apa yang sebetulnya sedang kita cari?
Cobalah fokus pada eskalasi kualitas diri, seperti:
1. Mengonfigurasi Integritas: Setialah pada janji, terutama janji yang kita buat untuk diri sendiri maupun pasangan.
2. Mengembangkan Potensi Diri: Alokasikan energi untuk mengeskalasi karier, skill, kesehatan mental, dan knowledge. Ketika kita utuh dan berkualitas dari internal, maka keperluan akan validasi murahan dari eksternal, perlahan akan sirna dengan sendirinya.
3. Eskalasi Kedewasaan Emosional: Belajarlah untuk mengelola ketidakpuasan, kejenuhan, ataupun konflik dalam hubungan, seperti dengan komunikasi yang jujur dan terbuka, bukan dengan pelarian.
Esensinya, harga diri yang sejati, tidak diukur dari seberapa banyak orang tertarik kepada kita, melainkan dari seberapa tinggi kita menghargai diri sendiri dan komitmen yang telah kita junjung tinggi. Oleh karena itu, jadilah pribadi yang berprinsip, bukan yang mudah digoyahkan, ya!
“Orang berintegritas pilih sendiri, daripada harga diri ia khianati. Karena, validasi sejati ada di hati, bukan pada godaan yang mengganti-ganti.”

Komentar
Posting Komentar