Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Parameter dalam Pertemanan

Gambar
  Dalam dinamika pertemanan, saya sempat dihadapkan pada dilema moral. Di mana, saya mesti memisahkan antara sosok yang kita sukai dan tindakan yang ia realisasi. Saya kerap berusaha membelah eksistensi seorang teman menjadi dua bagian. Di satu perspektif, saya membenci perilakunya. Namun, di perspektif lain, saya bersikeras tetap menyukai pribadinya. Akan tetapi, pasca saya pikir-pikir, membedah manusia sedemikian rupa merupakan perkara yang mustahil. Hal demikian, disebabkan setiap tindakan yang direalisasikan seseorang, pada dasarnya, merupakan pengejawantahan autentik dari value-value dan karakter yang ia miliki. Menurut perspektif saya, memahami keterikatan yang tak terpisahkan antara pribadi dan perilaku ini, membantu saya untuk bersikap lebih objektif dalam menilai sebuah pertemanan. Pertemanan sejati tidak semestinya dikonfigurasi di atas penyangkalan terhadap realitas pahit. Akan tetapi, menyadari bahwa tindakan seorang teman adalah cerminan dari karakter dirinya. Sehingg...

Mengapa Kita Sering Menghakimi?

Gambar
Dalam kehidupan dewasa ini, saya menyadari bahwa saya acap kali mengaplikasikan standar ganda tanpa menyadarinya. Umpamanya, saat saya terlambat, saya berdalih bahwa kemacetanlah penyebabnya. Namun, saat orang lain yang terlambat, saya dengan mudah mencap mereka sebagai pribadi yang tidak disiplin. Begitu pula saat presentasi. Apabila saya gugup, saya beralasan saya introvert. Namun, bila orang lain yang gugup, saya cenderung menganggap mereka inkompeten. Kemudian, saya menyadari, mengapa standar penilaian saya tiba-tiba berubah? Menurut perspektif saya, fenomena ini dialami oleh hampir semua manusia. Hal demikian, bukan serta-merta saya mempertontonkan bahwa saya dan mereka jahat, melainkan saya berbicara ihwal mekanisme otak dalam menilai sesama.  Kebanyakan dari kita, cenderung memaparkan perilaku orang lain berdasarkan faktor internal, yakni karakter mereka, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal, seperti situasi yang mereka hadapi. Antitesanya, saat kita sendiri melakukan kek...

Mengapresiasi Perjuangan di Balik Barang Tiruan

Gambar
Kita acap kali menghakimi apa yang tampak di permukaan, tanpa pernah menyelami proses panjang yang telah dilalui. Kita bak penonton yang sekedar menyaksikan ending , tanpa pernah memberikan andil dalam peluh perjuangan. Kemudian, dengan ringannya berujar, “Ah, hanya segitu saja.” Padahal, sesuatu yang kita anggap sepele, boleh jadi merupakan achievement yang dahulu hanya berani ia langitkan dalam doa dan impian. Tanpa disadari, metode kita memandang orang lain, sebenarnya merupakan cermin dari metode kita memandang diri sendiri. Dikala kita begitu mudah meremehkan, persoalannya bukan terletak pada apa yang mereka punya, melainkan pada hati kita yang belum khatam belajar bersyukur. Bagaimana mungkin kita tega menertawakan kebahagiaan seseorang, sementara eksistensi kita tidak pernah hadir dalam bagian tersulit hidupnya? Menjadi bijak dan berempati, itu mudah. Ini bukan lagi ihwal seseorang yang memilih untuk menghargai hal-hal kecil milik orang lain, dan bukan semata mempertontonkan so...

Seni Memutus Rantai Kesalahan

Gambar
Manusia melakukan kesalahan merupakan sebuah keniscayaan yang lumrah. Sebab, kekhilafan merupakan bagian dari proses belajar. Namun, frekuensi sebuah kesalahan, punya klasifikasinya tersendiri. Kesalahan yang dilakukan untuk pertama kali, dapat kita kategorikan sebagai ketidaksengajaan. Apabila kesalahan serupa berulang untuk kedua kalinya, hal tersebut mengindikasikan adanya unsur kesengajaan. Jika mencapai tiga kali, perilaku tersebut telah menjadi habit atau kebiasaan. Lebih dari itu atau pengulangan yang berkesinambungan, maka mencerminkan karakter orisinil atau integritas seseorang tersebut. Acap kali seseorang terpenjara dalam lingkaran permohonan maaf. Kalimat-kalimat seperti, “Mohon maaf, saya khilaf,” atau “Saya minta maaf, karena telah berbohong lagi,” yang diucapkan secara berulang, maka kehilangan esensi moralnya. Sebab, perilaku yang terjadi secara konsisten dan berkesinambungan, bukan lagi sebuah problematika, melainkan pengejawantahan dari rangkaian kepribadian seseora...