Mengapresiasi Perjuangan di Balik Barang Tiruan


Kita acap kali menghakimi apa yang tampak di permukaan, tanpa pernah menyelami proses panjang yang telah dilalui. Kita bak penonton yang sekedar menyaksikan ending, tanpa pernah memberikan andil dalam peluh perjuangan. Kemudian, dengan ringannya berujar, “Ah, hanya segitu saja.”


Padahal, sesuatu yang kita anggap sepele, boleh jadi merupakan achievement yang dahulu hanya berani ia langitkan dalam doa dan impian. Tanpa disadari, metode kita memandang orang lain, sebenarnya merupakan cermin dari metode kita memandang diri sendiri. Dikala kita begitu mudah meremehkan, persoalannya bukan terletak pada apa yang mereka punya, melainkan pada hati kita yang belum khatam belajar bersyukur.


Bagaimana mungkin kita tega menertawakan kebahagiaan seseorang, sementara eksistensi kita tidak pernah hadir dalam bagian tersulit hidupnya? Menjadi bijak dan berempati, itu mudah. Ini bukan lagi ihwal seseorang yang memilih untuk menghargai hal-hal kecil milik orang lain, dan bukan semata mempertontonkan sopan santun. Namun, ini ihwal bagaimana hatinya telah punya rasa syukur nan luas. Di mana, hati tidak lagi merasa terancam oleh kebahagiaan maupun perkataan siapa pun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365