Mengapa Kita Sering Menghakimi?


Dalam kehidupan dewasa ini, saya menyadari bahwa saya acap kali mengaplikasikan standar ganda tanpa menyadarinya. Umpamanya, saat saya terlambat, saya berdalih bahwa kemacetanlah penyebabnya. Namun, saat orang lain yang terlambat, saya dengan mudah mencap mereka sebagai pribadi yang tidak disiplin. Begitu pula saat presentasi. Apabila saya gugup, saya beralasan saya introvert. Namun, bila orang lain yang gugup, saya cenderung menganggap mereka inkompeten. Kemudian, saya menyadari, mengapa standar penilaian saya tiba-tiba berubah?


Menurut perspektif saya, fenomena ini dialami oleh hampir semua manusia. Hal demikian, bukan serta-merta saya mempertontonkan bahwa saya dan mereka jahat, melainkan saya berbicara ihwal mekanisme otak dalam menilai sesama. 


Kebanyakan dari kita, cenderung memaparkan perilaku orang lain berdasarkan faktor internal, yakni karakter mereka, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal, seperti situasi yang mereka hadapi. Antitesanya, saat kita sendiri melakukan kekeliruan, kita paham latar belakang situasinya secara paripurna. Namun, terhadap orang lain, kita hanya menonton outputnya.


Implikasinya, kita acap kali bersikap terlalu keras kepada orang lain, tetapi sangat toleran terhadap diri sendiri. Kita lupa bahwa realitas di balik tindakan seseorang, mungkin jauh lebih kompleks daripada apa yang kita tonton di permukaan. Oleh sebab itu, memahami celah logika ini merupakan langkah permulaan guna menumbuh kembangkan empati yang lebih objektif.


“Jangan menghakimi langkah kaki yang jalannya tak sama, bila kita hanya menonton output tanpa tahu beban di pundaknya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365