Parameter dalam Pertemanan

 

Dalam dinamika pertemanan, saya sempat dihadapkan pada dilema moral. Di mana, saya mesti memisahkan antara sosok yang kita sukai dan tindakan yang ia realisasi. Saya kerap berusaha membelah eksistensi seorang teman menjadi dua bagian. Di satu perspektif, saya membenci perilakunya. Namun, di perspektif lain, saya bersikeras tetap menyukai pribadinya. Akan tetapi, pasca saya pikir-pikir, membedah manusia sedemikian rupa merupakan perkara yang mustahil. Hal demikian, disebabkan setiap tindakan yang direalisasikan seseorang, pada dasarnya, merupakan pengejawantahan autentik dari value-value dan karakter yang ia miliki.


Menurut perspektif saya, memahami keterikatan yang tak terpisahkan antara pribadi dan perilaku ini, membantu saya untuk bersikap lebih objektif dalam menilai sebuah pertemanan. Pertemanan sejati tidak semestinya dikonfigurasi di atas penyangkalan terhadap realitas pahit. Akan tetapi, menyadari bahwa tindakan seorang teman adalah cerminan dari karakter dirinya. Sehingga, saya berhenti melahirkan alasan atau justifikasi atas perilaku merugikan yang lahir darinya.


Objektivitas ini, menjadi fondasi krusial dalam menentukan parameter yang sehat. Apabila perilaku seorang teman secara konsisten melanggar value-value keadilan ataupun ketulusan, maka kita mesti berani mengakui bahwa itulah representasi konkret dari dirinya dewasa ini. Menetapkan parameter, bukan berarti kita berhenti acuh, melainkan sebuah bentuk pengkultusan terhadap diri sendiri, supaya tidak terseret dalam toksisitas yang dikemas dengan label kesetiaan. Dengan demikian, kita dapat menjalin pertemanan yang berlandaskan pada de facto, bukan sekadar ilusi ihwal siapa yang kita inginkan mereka menjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365