Romantisme yang Sebenarnya
Bagi saya, romantisme bukan semata mengikuti rutinitas ataupun standar sosial yang dipaksakan masuk ke dalam relasi. Romantisme adalah tentang upaya kolaboratif antara kedua belah pihak untuk menjaga atmosfer dalam hubungan, agar perasaan jatuh cinta dapat terus dirasakan secara berulang dan berkesinambungan, walaupun hubungan telah terjalin lama. Bahkan, ketika kita telah mengetahui segala kekurangan pasangan, kita masih bisa tertawa saat melihat tingkah lakunya yang menggemaskan ataupun menjengkelkan.
Bentuk romantisme bukan semata terbatas pada pemberian bunga ataupun melafalkan “I love you” terus-menerus. Tindakan sederhana yang mempertontonkan atensi, seperti merapikan kamar walaupun ia lelah pasca berkegiatan, itu merupakan salah satu dari gestur romantis. Atau, ketika ia tiba-tiba menelepon hanya untuk menanyakan sesuatu yang sederhana, itu pun dapat dimaknai sebagai romantisme.
Dewasa ini, kita acapkali berekspektasi kaku terhadap definisi romantisme. Sehingga, membuat kita luput mengatensi ihwal apa saja upaya pasangan yang telah ia realisasikan sebagai pengejawantahan dari perhatian dan kasih sayang.
Pada akhirnya, kadang kita menyepelekan bahwa tindakan-tindakan tersebut, ternyata juga merupakan bagian dari romantisme yang ia upayakan dalam hubungan.
Oleh sebab itu, menurut saya, penting bagi kita guna meninjau dan menyelaraskan ekspektasi tersebut. Perlu pula kita sadari, apakah tindakan yang kita harapkan telah selaras dengan karakter pasangan? Apabila sifatnya tidak demikian, janganlah kita memaksakan pasangan untuk bersikap romantis dengan cara yang bertabrakan dengan kepribadian alamiahnya.

Komentar
Posting Komentar