Mengurai Polemik Tayangan Trans 7: Jalan Keluar dari Sentimen


Tayangan Trans 7 yang memantik polemik belakangan ini, telah melahirkan pertanyaan fundamental, apakah konten tersebut betul-betul keliru? Lepas dari problematika konten tersebut, saya sungguh prihatin melihat setiap kegaduhan di ruang publik kita, terutama di media sosial, senantiasa berakhir pada transaksi sentimen. Problematika substansi, acapkali tenggelam dalam pusaran emosionalitas dan rasa tersinggung belaka.


Oleh sebab itu, mari kita telaah isu ini dari beberapa perspektif yang lebih jernih dan rasional.


A. Maksud Kritik dan Kekeliruan Sasaran Trans 7


Dugaan kuat saya, Trans 7 berupaya menyampaikan kritik terhadap sebuah tradisi. Ironisnya, upaya tersebut jatuh ke dalam lubang subjektivitas yang fatal. Alih-alih menjadikan tradisi feodalisme sebagai objek kritik utamanya, mereka justru mengkritik kehidupan kyai dan santri di ponpes. Lebih jauh, narasi tayangan tersebut disayangkan karena diduga mengarah pada institusi dan figur kyai yang sangat dihormati.


Intensi untuk mengkritik penyimpangan dapat dipahami, tetapi kekeliruan dalam memilih fokus tujuan, telah mengaburkan pesan. Alhasil, niat baik yang diandaikan, berujung pada kekisruhan publik.


B. Sakralitas Ponpes dan Bahaya Kejumudan


Tidak dipungkiri, ada kecenderungan glorifikasi atau pengkultusan terhadap sosok kyai, ponpes, dan sistem yang berlaku di dalamnya. Perspektif ini membuat sebagian masyarakat menganggap institusi tersebut kebal dari kritik publik.


Padahal, ketika suatu entitas dimerdekakan dari masukan, saran, apalagi kritik konstruktif, implikasinya adalah kejumudan atau stagnasi. Institusi yang semestinya menjadi garda terdepan perubahan, justru berisiko kehilangan daya kritis dan adaptifnya. Oleh sebab itu, kritik, sepanjang disampaikan dengan adab dan data fakta, sesungguhnya adalah vitamin.


C. Kaburnya Esensi Kritik Trans 7


Ironisnya, respons yang dihegemoni oleh ledakan emosi dan sentimen, membuat substansi kritik Trans 7 menjadi tidak begitu berarti. Energi publik terkuras dalam perdebatan reaksioner. Situasi demikian mengakibatkan peluang untuk introspeksi diri, baik bagi ponpes maupun publik, menjadi minimal, bahkan lenyap.


Sejujurnya, apabila kita mau menilik lebih dalam, esensi kritik yang diusung oleh Trans 7, yakni dugaan ketidakselarasan antara lifestyle kyai dengan prinsip kesederhanaan, memang ada benarnya. Ada segelintir (oknum) kyai yang hidup dalam kemewahan berlebihan dan mungkin mengeksploitasi santrinya. Namun, mesti ditekankan, ini adalah fenomena oknum, bukan representasi seluruh ponpes.


D. Menimbang Kembali Feodalisme di Ponpes


Polemik yang viral ini, pada dasarnya bukan ihwal siaran belaka, melainkan ihwal nilai. Perdebatan di media sosial yang terbelah antara pembela Trans 7 dan pembela ponpes, di mana salah satu pihak menuduh tradisi penghormatan sebagai feodalisme, menuntut kita untuk berbicara sebagai individu yang menghargai ilmu dan adab.


Dari perspektif yang rasional dan kultural, apa yang disebut sebagian orang sebagai feodalisme di ponpes, sesungguhnya adalah tata krama spiritual. Sikap santri mencium tangan guru, bukan bentuk ketundukan kepada manusia, melainkan pengejawantahan dari ketundukan dan penghargaan komprehensif terhadap ilmu yang terpatri pada sosok guru. Tradisi ini merupakan kekayaan nilai, bukan sisa-sisa praktik kolonial. Sebab, ia mengajarkan bahwa tidak semua hal, dapat diukur dengan logika material. Ada pula hal-hal yang mesti dijaga dengan adab.


Feodalisme menindas karena didorong nafsu berkuasa. Sedangkan adab, mendidik karena bertujuan menumbuhkan karakter mulia. Keduanya tampak serupa dari eksternal, tetapi berjarak sejauh bak langit dan bumi bagi yang memahami hakikatnya.


Sebagai seorang yang tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah yang terbiasa berpikir objektif, mandiri, dan terbuka, saya meyakini bahwa progresivitas sejati tidak boleh tercerabut dari akar moral. Ponpes, seperti Lirboyo dan lainnya, merupakan salah satu penjaga moral bangsa kita.


Kita memang dibenarkan untuk berbeda dalam metode dakwah, lifestyle, ataupun perspektif sosial, tetapi disparitas tersebut tidak boleh menumpulkan rasa hormat dari esensi peradaban Islam.


Oleh sebab itu, apabila penghormatan santri kepada kyai disebut feodalisme, jawabannya tegas, bukan. Itu adalah etika ilmu. “Bangsa yang kehilangan adab, bukanlah bangsa yang maju, melainkan bangsa yang kehilangan arah”.


Harapan saya, setiap problematika dan kegaduhan, mesti disikapi dengan cara yang lebih beradab dan elegan. Hentikan penyebaran konten pendek provokatif yang hanya melahirkan sentimen di mana-mana. Apakah sentimen ini bakal merampungkan problematika? Niscaya kecil kemungkinannya.


Mari kita selesaikan polemik ini dengan kepala dingin, merujuk pada substansi, dan mengedepankan adab dalam berdiskusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365