Mengapa Perubahan Hanyalah Milik Pribadi?
Acap kali, kita merasa terusik oleh sikap atau tabiat seseorang yang menurut hemat kita, tidak ideal. Sehingga, kehendakan untuk memperbaiki orang lain merupakan dorongan yang manusiawi. Namun, apabila nawaitu tersebut dibersamai dengan ekspektasi yang hiperbola, maka kekecewaan hampir niscaya menjadi akhir ceritanya.
Seberapa besar pun energi dan usaha yang kita kerahkan guna mengubah seseorang, semua itu bakal sia-sia, apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan internal untuk berbenah. Mengapa demikian? Sebab, perubahan yang hakiki, memerlukan izin dari pemilik diri. Tanpa adanya kesadaran dari internal, maka segala intervensi eksternal, hanyalah kebisingan yang tidak akan mengubah pengaturan fundamental atas karakter seseorang.
Ada sebuah kalimat yang menggambarkan hal demikian, yakni “Bila mereka mau, mereka akan melakukannya.” Akan tetapi, dalam pembicaraan hubungan, perubahan bukanlah beban sepihak. Diksi “kita” menyiratkan sebuah kemitraan. Perubahan yang harmonis memerlukan kerja kolektif. Di mana, sebuah sinergi kedua belah pihak saling menyokong guna tumbuh tanpa merasa dihakimi.
Acap kali, obsesi kita guna membenahi orang lain, hanyalah bentuk pengalihan supaya kita tidak perlu melihat kekurangan diri sendiri. Kita terlalu sibuk mengevaluasi orang lain hingga lupa bahwa diri kita pun memerlukan perbaikan yang berkesinambungan. Oleh sebab itu, pra-menuntut transformasi dari orang lain, cobalah bertanya terlebih dahulu pada diri.
Jangan sampai kita terpenjara dalam delusi kendali. Fokuslah pada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri, dan biarkan orang lain berproses dengan opsinya masing-masing.
“Apabila mereka mau, maka mereka akan melakukannya.”

Komentar
Posting Komentar