Dialektika Ego dan Jeda dalam Menjemput 2026


Mengelola sederet target dan gagasan, bukanlah perkara mudah. Sebab, faktanya, masih ada sederet impian yang belum berhasil terealisasi. Namun, di balik itu semua, terdapat kristalisasi pembelajaran yang lahir dari rangkaian kegagalan yang mengharuskan kita berhenti sebentar. Sikap skeptis juga telah mengajarkan makna jeda. Sedangkan kelelahan, secara perlahan telah menempa ketahanan diri saya.


Tahun 2025 bukan semata ihwal pencapaian yang gemilang, melainkan pula ihwal kesadaran komprehensif atas parameter, orientasi, dan esensi dari setiap upaya. Apa yang belum terejawantah, bukanlah sebuah akhir. Namun, bekal fundamental guna melangkah secara lebih jujur pada tahun 2026.


Ketika ditinjau dari dua perspektif, rasa kecewa maupun penolakan, bukanlah bentuk kegagalan atas peristiwa yang terjadi. Namun, kegagalan dalam cara kita menyikapi.


Kita bukanlah figur krusial yang mesti senantiasa diprioritaskan dalam setiap kepentingan. Menyadari realitas tersebut, bukanlah bentuk degradasi diri, melainkan upaya guna menempatkan ego pada porsi yang semestinya.


Dalam menyikapi kesendirian, hal tersebut bukanlah ihwal kesepian, melainkan sebuah opsi sadar guna memberikan jeda bagi diri. Ini merupakan ruang guna mengoreksi langkah, berdiskusi secara jujur dengan nurani, serta merenung tanpa distraksi.


Memilih untuk mengapresiasi, alih-alih merasa tertinggal oleh pencapaian orang lain merupakan manifestasi dari kedewasaan batin. Penderitaan merupakan bentuk kehidupan yang mengajarkan esensi. Akan tetapi, ia tidak pernah diminta untuk menetap abadi.


Bismillah. Assalamualaikum, 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365