Presentasi Selama Satu Semester?!


Fenomena penugasan presentasi mahasiswa secara berkesinambungan selama satu semester, telah menjadi sorotan serius dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia hari ini. Praktik ini ditengarai bukan semata anomali, melainkan telah meluas dan menciptakan pertanyaan fundamental ihwal kualitas pengajaran dan seorang dosen.


Skenario yang umum terjadi adalah dosen pada pertemuan pertama, hanya mengedarkan silabus yang mayoritas subtansinya adalah jadwal presentasi kelompok, dan itu biasanya dimulai dari pertemuan kedua hingga akhir semester. Dalam perealisasiannya, dosen acapkali kurang dan bahkan tidak berperan secara aktif. Dosen cenderung duduk di belakang ataupun diam di tempat. Terkadang sibuk dengan gawai ataupun menatap laptop. Bahkan, dalam kasus terburuk, dosen tidak hadir di kelas.


Kondisi demikian, tentunya menyulitkan mahasiswa yang kemudian mengajar teman-temannya hanya dengan pengetahuan seadanya, ditambah menggunakan materi presentasi yang kadang kala dibuat secara SKS (Sistem Kebut Semalam). Umpamanya, dengan kecerdasan buatan (AI). Model pembelajaran yang sepenuhnya mengandalkan mahasiswa ini merupakan indikasi konkrit dari dosen yang kurang kompeten dan/atau tengah merealisasikan desersi intelektual dari tanggung jawabnya sebagai pendidik.


Salah satu dalih yang acapkali diaplikasikan untuk menormalisasi praktik ini adalah implementasi pembelajaran yang tersentralisasi pada mahasiswa (student-centered learning). Konsep tersebut, secara esensial memang frasa positif, tetapi dalam praktiknya telah dibajak menjadi justifikasi untuk tidak sepenuhnya mengajar.


Mahasiswa dewasa ini, perlu aktif dan dibekali skill krusial, seperti kapabilitas riset yang benar, kerja sama kelompok yang efektif, dan berani dengan lantang bersuara di depan umum.


Namun, menjadikan presentasi sebagai hidangan utama atau metode tunggal sepanjang semester, merupakan penipuan pedagogis. Hal demikian, bak menyewa koki ahli, tetapi sang koki justru memerintahkan tamu untuk memasak hidangan mereka sendiri dengan bahan mentah yang belum mereka kenali dan tanpa bimbingan yang memadai.


Praktik pemberian tugas presentasi kepada mahasiswa, sesungguhnya tidaklah keliru. Asalkan diimplementasikan secara proporsional dan dengan pengawasan yang ketat oleh sang dosen, agar model pembelajaran yang tersentralisasi pada mahasiswa (student-centered learning) ini, dapat berlangsung efektif dan bermutu.


Berikut adalah solusi yang kiranya dapat dipertimbangkan:


1. Metode yang Proporsional: Presentasi mahasiswa semestinya menjadi metode pendukung, bukan pengganti prioritas peran sang dosen dalam menyampaikan materi. Dosen wajib mengalokasikan waktu yang memadai untuk perkuliahan tatap muka, memaparkan inti dengan renyah, dan diskusi terpandu oleh sang dosen.

2. Keterlibatan Aktif sang Dosen: Dosen mesti aktif mengatensi presentasi, seperti memperbaiki kekeliruan (correcting) konseptual atau faktual yang dibeberkan mahasiswa, memperkaya materi dengan perspektif akademis yang komprehensif, dan menjadi nahkoda sesi tanya jawab agar diskusi lebih orientatif dan substantif.

3. Mendorong Partisipasi yang Merata: Dosen perlu mengambil langkah aktif untuk mengajak dan membiasakan (semua) mahasiswa untuk berpartisipasi dalam diskusi, bukan semata mengandalkan mahasiswa yang secara alamiah sudah vokal. Hal demikian, dapat direalisasikan melalui teknik diskusi yang bervariasi dan penilaian yang fair terhadap kontribusi setiap mahasiswa.


Pada akhirnya, model pembelajaran yang memerdekakan mahasiswa untuk berpikir dan bersuara dalam diskusi ini, hanya akan termanifestasi apabila dosen hadir secara penuh dan bertanggung jawab sebagai fasilitator dan ahli materi. Mahasiswa pun, mempunyai hak untuk menyuarakan keberatan terhadap model pembelajaran yang dirasa merugikan perkembangan intelektual mereka, demi terciptanya proses belajar-mengajar yang bermakna dan berkualitas.


Kecakapan seorang pendidik bukanlah pada seberapa banyak tugas yang dia sajikan, melainkan pada seberapa dalam dia mampu menanamkan pemahaman.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365