Enam Puluh Lima Hari Merajut Asa dan Cerita di Desa Budi Mulya


Pertemuan kita bermula pada 25 Oktober 2025. Sejak saat itu, kita mulai menapaki perjalanan panjang selama 65 hari dalam bingkai KKN. Menjadi bagian dari kelompok ini merupakan sebuah kejutan yang tak pernah saya prediksi sebelumnya. Maklum, selama perkuliahan di kampus, wajah kalian jarang sekali tertangkap oleh mata maupun ingatan saya. Namun, saya cukup yakin, kalian pastinya tidak merasa asing mendengar dan melihat wajah saya, bukan?


Saya masih ingat dengan jelas momen pertama kita saat Pembekalan KKN. Kala itu, suasana dilingkupi skeptisisme. Saya melihat kalian tampak enggan untuk unjuk gigi, hingga kecemasan sempat menyelinap di benak saya. Akan tetapi, perlahan kecemasan itu melebur saat saya memutuskan untuk mengambil langkah pertama, menjadi pemantik guna menggerakkan semangat kalian semua.


Ingatkah kalian momen saat kita melakukan Survei Lokasi KKN? Sungguh menggelitik bila dikenang kembali, ya. Meskipun almamater dan sepeda motor kita basah kuyup dihantam air deras yang jatuh dari langit, kita tetap santai menerjang jalanan. Lucunya, sesampainya di tujuan, subjek yang kita cari, justru tidak ada di tempat. Bahkan, kita hampir saja mendapatkan Posko KKN yang nyaman. Namun, kita memilih untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.


Memori lain yang melekat kuat dibenak saya adalah perjalanan kedua menuju Lokasi KKN pasca-acara Pelepasan Mahasiswa KKN di kampus. Ban sepeda motor saya bocor di tengah jalan. Sebuah ironi yang menyesakkan. Sebab, saya merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi kalian sepenuhnya untuk bersilaturahmi ke Kantor Desa. Awalnya, saya cemas. Sebab, saya belum mampu membaca ritme pergerakan kalian. Namun, syukur alhamdulillah, kalian membuktikan keberdikarian dengan melobi pihak setempat hingga kita mendapatkan Posko KKN terpisah yang sangat memadai dan nyaman.


Sederet Program Kerja KKN lintas bidang, telah kita realisasikan dengan apik. Meskipun sempat ada dinamika dan disparitas pendapat saat saya mengusulkan tambahan Program, kedewasaan kitalah yang membuktikan. Sebab, 32 dari 34 Program Kerja KKN kita, sukses terealisasi dengan segala eksklusivitas yang ada. Meskipun demikian, apa pun hasilnya, kita senantiasa punya cara untuk merayakannya. Salah satunya dengan menyantap bakso di dekat Posko KKN kita. Bagi saya, momen bersahaja itulah yang justru terasa paling mewah.


Saya juga tidak akan melupakan malam minggu itu, saat kita bersiap berangkat ke acara Haul Guru Sekumpul di Martapura. Momen itu terjadi tepat pasca kita menggelar acara Memasak, Makan, dan Doa Bersama Pemangku Kepentingan Desa sebagai tanda berakhirnya masa pengabdian. Saya sangat bersyukur kala itu. Sebab, kalian semua dalam keadaan baik-baik saja.


Sepertinya, terlalu banyak cerita yang kelak kita kisahkan kepada orang lain. Bagi saya, salah satu yang paling membekas adalah momen Pra-Pra-Seminar Laporan KKN. Saya ingat betapa cemasnya kalian kala itu, hingga kita kembali bersua. Kita duduk melingkar di salah satu taman di Hulu Sungai Selatan, berdiskusi mematangkan strategi, guna menggempur Seminar yang sudah menanti.


Ternyata, persiapan matang itu, membuahkan hasil yang indah. Program Kerja KKN kita, disambut hangat dan penuh tawa oleh Penguji maupun Supervisor. Revisi Laporan pun, sangat minim. Kemudian, kita menutup kemenangan kecil tersebut dengan mengabadikan momen bersama salah satu produk dari potensi desa KKN kita di Studio Si Manis.


Akhirnya, pada 14 Februari 2026, kita kembali bersua setelah sekian lama dalam rangka mengikuti acara Penutupan KKN di kampus. Saya sendiri, sudah menduga bahwa kita adalah Kelompok KKN Terbaik. Syukur alhamdulillah, apa yang saya duga benar-benar terjadi. Nama kelompok kita diucapkan pertama kali, sebelum kelompok lainnya.


Kawan-kawan, berjanjilah untuk senantiasa merawat tali silaturahmi ini. Saya tahu, kalian merindukan senda gurau seperti masa-masa itu. Terima kasih atas segala bantuan dan kerja keras kalian, Muhammad Abrari Syaufi, Saida Ramlah, Rizki Anisa Ningsih, Muaimah, Naila Fitria Ulfah, dan Siti Nurul Hikmah. Sebuah kehormatan bagi saya bisa menjadi Ketua kalian.


Tetaplah genggam spirit “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”. Semoga moto yang kita usung, “Ambil Peran dan Bertindak, Wujudkan Dampak yang Serentak”, senantiasa kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun, masa KKN telah usai.


Salam hangat,

Ahmad Fauzi Muhana

(Ketua Kelompok)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365