Perspektif Menentukan Rasa
Tahukah Anda, bahwa pemicu prioritas perasaan tersakiti, acapkali bukanlah karena niat jahat orang lain, melainkan karena disparitas cara mereka merasakan dan memahami suatu hal dibandingkan kita.
Pernahkah terlintas dalam benak kita, bahwa hal yang kita anggap sangat menyakitkan, di dunia mereka bisa jadi hanyalah sesuatu yang biasa? Tidak dianggap serius, tidak dimasukkan ke dalam hati, bahkan terkadang tidak terpikirkan sama sekali.
Mengapa hal demikian bisa terjadi? Alasannya, setiap individu mempunyai value-value internal yang berbeda. Disparitas ini berasal dari latar belakang tumbuh kembang yang tidak serupa, prioritas yang dianggap krusial, dan apa yang kita anggap tidak pantas, bisa jadi hal kecil bagi mereka.
Sebagai contoh, apabila seseorang tumbuh di lingkungan yang mengajarkan kepekaan, maka seseorang tersebut akan merasa terganggu saat ada orang berbicara sembarangan. Namun, apabila seseorang tumbuh dengan candaan yang keras dan ceplas-ceplos, seseorang tersebut tidak akan menganggapnya sebagai kekeliruan. Karena, seseorang tersebut tidak merasakan hal itu menyakitkan.
Maka dari itu, lumrah apabila kita acapkali merasa kecewa. Bukan karena mereka sengaja menyakiti, melainkan karena kita berekspektasi kepada mereka untuk memahami cara kita merasakan. Padahal, mereka tidak pernah hidup dalam perspektif kita. Demikian pula sebaliknya. Terkadang, kita mungkin meremehkan luka orang lain. Karena, kita menganggapnya itu suatu problematika kecil. Padahal, bagi mereka, itu merupakan beban yang sangat berat. Karena, kapasitas setiap orang dalam menerima rasa sakit, berbeda-beda. Ada yang terlihat kuat di luar, tetapi sangat rapuh di dalam. Ada yang terkesan apatis, padahal sebenarnya tengah menahan kehancuran.
Oleh karena itu, apabila hari ini kita termasuk golongan orang yang sensitif, mudah terbawa perasaan, atau acapkali berpikir terlalu dalam, tenanglah. Karena, itu bukanlah kelemahan. Kita hanya perlu mempelajari satu hal krusial, yakni kita tidak bisa mengubah lingkungan sekitar kita, tetapi kita bisa mengubah cara kita meresponsnya. Karena, menjadi orang yang peka, akan menjadi kekuatan besar, apabila kita mampu belajar mengendalikan perasaan.

Komentar
Posting Komentar