Relasi Antarmanusia pada Dasarnya Bersifat Simbiotik
Akan tetapi, ketika kita masuk dalam pembicaraan moralitas, terutama ihwal konsep benar dan salah, maka penilaian menjadi lebih kompleks. Sebab, kebenaran bukanlah sebuah entitas tunggal yang inkrah dalam interaksi manusia, melainkan sebuah kodifikasi yang dipengaruhi oleh perspektif masing-masing. Disparitas latar belakang kebudayaan, pengalaman hidup, metode berpikir, dan kepentingan pribadi, menyebabkan setiap manusia punya standar moral yang berdiferensiasi.
Kita semua tahu, bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang punya eksklusivitas. Untuk menutupi eksklusivitas tersebut, kita perlu sumber daya atau kapabilitas orang lain. Dalam pembicaraan ini, memanfaatkan tidak senantiasa bermakna destruktif. Akan tetapi, bentuk konsekuensi logis guna bergandengan mencapai muara yang tidak dapat diraih sendirian.
Kemudian, kebenaran sering kali bersifat subjektif. Apa yang saya anggap sebagai tindakan benar karena memberikan manfaat kolektif, bisa dianggap salah oleh para pembaca apabila berkonfrontasi dengan value personal mereka. Oleh sebab itu, inilah yang mendasari adanya pluralitas perspektif dalam menilai suatu tindakan.
Sebab, setiap tindakan manusia didorong oleh motivasi tertentu. Dikala saya merealisasikan sesuatu yang saya anggap benar menurut perspektif saya, maka saya tengah bertindak berdasarkan logika internal yang dikonfigurasi oleh lingkungan saya.
Maka dari itu, hidup merupakan interaksi yang saling dan didasarkan pada asas kemanfaatan. Efektivitas relasi tersebut sangat bergantung pada bagaimana kita menyikapi disparitas perspektif ihwal value-value moral. Ketika kita sadar bahwa setiap orang punya perspektif kebenaran masing-masing, maka itu merupakan jejak pertamanya guna menyongsong toleransi dan kedewasaan dalam bersosial.

Komentar
Posting Komentar