Mengapa Orang Kompeten Merasa Menjadi Seorang Penipu?
Ada satu hal dewasa ini yang baru saya sadari. Semakin tinggi level kecerdasan ataupun keahlian seseorang, sering kali ia justru merasa seperti seorang penipu. Mengapa demikian?
Sebab, keadaan tersebut melahirkan ilusi bahwa seolah-olah seluruh kesuksesan seseorang, hanyalah sebuah kebetulan dan keberuntungan belaka. Umpamanya, ketika saya menorehkan prestasi maupun memperoleh apresiasi. Saya cenderung menolerir hal tersebut sebagai faktor keberuntungan. Bahkan, di balik apresiasi yang saya terima, sering kali lahir gejolak dipikiran saya yang terus membisikkan bahwa, "Sebenarnya, saya tidak sehebat yang mereka kira."
Ternyata, pasca saya telaah, perasaan tersebut lebih sering menerkam seseorang yang punya kompetensi daripada mereka yang belum punya keahlian. Sehingga, kondisi demikian melahirkan skeptisisme bahwa eksistensinya belum dan bahkan tidak pantas berada pada posisi yang telah ia capai dewasa ini.
Hal tersebut, terjadi sebab semakin seseorang memahami kompleksitas sesuatu, maka semakin ia menyadari betapa luas ketidaktahuan ilmu yang belum dikuasainya. Kesadaran akan eksklusivitas tersebut, sering kali bertemu pada skeptisisme. Namun, antitesanya, seseorang dengan pemahaman yang dangkal, justru cenderung merasa paling yakin dan benar.
Oleh sebab itu, apabila sesekali kita merasa tidak secerdas anggapan orang lain, hal tersebut kiranya bukan tanda ketidakmampuan. Akan tetapi, perasaan tersebut merupakan indikasi bahwa kita punya kesadaran diri yang tajam dan kesadaran intelektual yang mendalam.

Komentar
Posting Komentar