Relasi Tanpa Strategi


Dapatkah sebuah hubungan, baik dalam level perkenalan maupun kedekatan, dikonfigurasi tanpa melibatkan strategi komunikasi yang kompleks dan kiranya manipulatif?

Menurut keyakinan saya, interaksi seseorang dewasa ini sering kali didominasi dalam perhitungan strategi. Misalnya, seseorang dengan sengaja menunda waktu membalas pesan demi membangun kesan sibuk, ataupun menyembunyikan antusiasme karena khawatir dianggap terlalu berlebihan. Taktik semacam ini justru memacetkan lahirnya komunikasi yang jujur dan tulus.

Lantas, kenapa kita tidak beralih pada sikap otentik dalam menghadapi hal-hal tersebut?!

Menurut perspektif saya, dengan mempertontonkan jati diri yang asli, kita dapat mengukur secara objektif sejauh mana level kecocokan dan koneksi yang terjalin. Bersikap inklusif ihwal nilai yang kita yakini dalam hidup serta berani memperlihatkan kekurangan pribadi bukanlah sebuah kelemahan, melainkan metode guna mengkonfigurasi fondasi kredibilitas sejak dini.

Implementasi kejujuran akan hal ini saya rasa sangat krusial guna masa depan sebuah hubungan. Melalui keterbukaan terhadap ketidaksempurnaan masing-masing, dua manusia berlainan jenis kelamin ini dapat memproyeksikan secara logis bagaimana mereka akan berperan sebagai mitra dalam menghadapi realitas kehidupan.

Pada akhirnya, hubungan yang langgeng tidak dikonfigurasi di atas sederet strategi yang kompleks dan kiranya manipulatif, melainkan di atas kesediaan guna saling menerima identitas yang hakiki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semprotulation, Muhana

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365