Kita Semua Punya Kapasitas untuk Menjadi Jahat

Apabila pressure hidup sudah terlalu berat, akui saja. Sebab, pengakuan itu bisa menjadi titik awal lahirnya empati.


Aku bisa menjadi sosok yang teramat sabar, hingga pada satu titik aku dipermalukan berulang. Kemudian, pada satu hari, aku membalasnya dengan metode yang dahulu sangat ku benci.


Aku bisa menjadi pribadi yang acuh, hingga terlalu sering dimanfaatkan. Lama-kelamaan, aku pun aware dan membatin, “Kali ini, aku memilih apatis. Tak peduli siapa pun yang kena dampak dan imbasnya.”


Aku bisa menjadi sosok yang senantiasa jujur, hingga kejujuran itu berkali-kali dipergunakan untuk melukai diriku. Pada akhirnya, aku belajar menyembunyikan kebenaran. Bukan sebab aku menyukai kebohongan, melainkan sebab aku telah lelah menjadi pribadi yang senantiasa inklusif.


Kadang kala, aku punya parameter toleransi kesabaran. Ketika finansial menipis, ketika pressure datang silih berganti, ketika kegagalan terjadi berulang kali, dan ketika aku merasa betul-betul sendirian, di situlah versi diriku yang selama ini tersembunyi dapat tampak ke permukaan.


Menariknya, aku begitu cepat mendiagnosa dan melabeli orang lain jahat. Namun, ketika aku melakukan hal yang serupa, aku punya sederet rasionalisasi. Begitulah manusia, kan?


Saat orang lain bersikap kasar, aku berdalih, “Dia memang tabiatnya seperti itu.” Namun, saat aku yang bersikap kasar, aku membela diri, “Aku tengah dihadapi banyak problematika.” Disparitas tindakannya sangat tipis, tetapi narasi justifikasinya yang berbeda.


Ironis, bukan?! Aku sering menganggap kebaikan sebagai sebuah identitas yang mutlak. Sesimpel, “Aku bukan orang jahat.” Padahal, realitasnya manusia tak pernah tersusun dari satu perspektif belaka. Sabar, amarah, acuh, iri, dan egois, seluruhnya dapat bersemayam dalam diri sosok yang serupa.


Mengakui sisi gelap diri, bukan berarti menjustifikasi. Justru, itu adalah antitesisnya. Aku akan sulit mengontrol sesuatu yang eksistensinya even tak ingin aku akui. Saat aku berani berkata, “Aku pun bisa seperti itu,” aku mulai lebih waspada terhadap diri sendiri.


Sebab, terdapat disparitas yang signifikan antara “Aku orang baik” dan “Aku ingin berbuat baik, tetapi aku tahu aku pun punya kapabilitas untuk menyakiti.”


Sepertinya, dari sinilah empati yang hakiki bermula. Bukan dengan jumawa berkata, “Aku tak akan pernah merealisasikan itu,” melainkan dengan bijak aware dan paham, “Aku mengerti mengapa seseorang bisa sampai ke fase itu,” tanpa mesti menjustifikasi perbuatannya.


Empati bukan berarti menoleransi seluruh kejahatan. Empati dimulai ketika aku aware, "Aku pun bisa keliru.".


Sepertinya, aku perlu conscious living terhadap diri sendiri. When terakhir kali aku bertransformasi menjadi sosok yang sebenarnya tidak aku sukai? Apakah saat sedang marah, tertekan, atau dikritik? Lantas, karakter seperti apa yang tampak dari diriku kala itu?


Sepertinya, aku tak perlu tergesa mengklaim, “Aku orang baik.” Kira-kira akan jauh lebih arif ketika aku menyadari, “Aku punya sisi gelap yang bisa saja melukai orang lain.” Justru, sebab aku tahu dan sadar akan potensi tersebut, aku dapat lebih becareful dalam meniti tiap langkah dan tindakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parameter dalam Pertemanan

Enam Puluh Lima Hari Merajut Asa dan Cerita di Desa Budi Mulya

Mengapa Kita Sering Menghakimi?