Hadiah Tak Seberapa dariku untuk Mama


Jika ada yang bertanya hari apa yang paling ku nantikan sekaligus ku hindari dalam hidupku, kiranya hari inilah jawabannya. Hari ketika sampul ijazah akhirnya berada dalam genggamanku, mortarboard yang terpasang rapi di kepalaku, dan senyum lega memancar di bibirku. Sebuah struggle panjang telah rampung. Namun, di balik keriuhan tepuk tangan di Pendopo Bupati, Hulu Sungai Selatan hari ini, ingatan saya justru melayang jauh ke belakang, yakni pada setiap tetes keringat, doa malam yang tak terputus, deretan kopi yang diseruput, dan sunyi yang mengiringi langkah struggle ini.


Torehan hari ini sama sekali bukan ihwal saya seorang. Jika perjalanan kuliah ini diibaratkan sebagai sebuah pelayaran yang menerjang badai, maka ada deretan tangan yang sibuk merawat dayung, memperbaiki layar, hingga menjaga agar kapal ini tak karam, apalagi tenggelam.


Ucapan terima kasih tertinggi, komprehensif, dan tak punya parameter seluas samudra, saya persembahkan untuk Mama. Ma, tulisan dan lembaran ijazah ini sungguh hadiah yang tak seberapa jika dibandingkan dengan separuh hidup yang Mama korbankan demi melihat anakmu berdiri di panggung wisuda hari ini. Mama merupakan pilar tertangguh yang tak pernah goyah, even di kala dunia terasa begitu menghimpit. Terima kasih telah menjadi rumah, tempat saya senantiasa bisa pulang dan menemukan ketenangan di tengah riuhnya pressure akademik maupun kehidupan.


Untuk Almarhum Ayah yang telah mendahului saya sejak tahun 2017. Yah, hari ini anakmu menggenapi salah satu janji bersahaja itu. Meski ragamu tak lagi dapat kupeluk dan matamu tak lagi dapat menyaksikan momen ini secara eksplisit, saya tahu kebanggaan itu tetap hidup di surga. Kepergian Ayah sembilan tahun lalu memang meninggalkan celah yang tak akan pernah tertutup, tetapi kenangan dan teladan Ayah senantiasa menjadi semangat di tiap kali saya merasa hendak menyerah. Hari ini, toga ini turut milik Ayah.


Kepada kedua kakak perempuanku tersayang serta seluruh keluarga besar, terima kasih yang tak terhingga atas tiap dukungan, nasihat, bimbingan, uang, dan kasih sayang yang tiada henti. Kalian merupakan jaring pengaman yang buat saya berani melangkah jauh tanpa takut terjatuh.


Di sepanjang struggle ini, saya turut conscious bahwa takdir acap kali mengonsolidasi langkah kita dengan sosok yang hadir pada masa tertentu. Dia membawa kebaikan, mengoptimalkan, lalu membiarkan kita melanjutkan perjalanan masing-masing. Teruntuk seseorang yang pernah bersanding dalam perjalanan ini, yang loyal menemani sejak semester empat hingga momen Yudisium tiba. Terima kasih atas tiap diskusi serius maupun gelak-tawa, dukungan tiada henti, dan kolaborasi ilmiah yang pernah kita ukir kolektif hingga melahirkan karya jurnal yang membanggakan. Dua kali penghargaan sebagai Mahasiswa Peraih Nilai Tertinggi pada Program Studi Hukum Tata Negara yang sempat kuraih sewaktu bersamamu, akan senantiasa menjadi bagian krusial dari jejak rekam struggle ini. Terima kasih telah pernah menjadi bagian dari kisah tumbuh dan beraktualisasinya diri ini.


Tak lupa, penghormatan dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya saya haturkan kepada Rektor beserta jajaran pimpinan. Ucapan terima kasih secara spesifik saya persembahkan kepada Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam yang sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Satu saya, atas arahan, ilmu, serta kesabaran yang luar biasa dalam membimbing penyusunan karya ilmiah saya. Terima kasih pula kepada Dosen Pembimbing Dua, Dosen Penasihat Akademik, serta Ketua Program Studi Hukum Tata Negara yang senantiasa memberikan akses, petunjuk, dan dorongan moral selama saya menimba ilmu.


Kepada para senior yang tak pelit berbagi experiences dan tips bertahan hidup di dunia perkuliahan, serta kawan-kawan seperjuangan Mahasiswa Hukum Tata Negara Angkatan Pertama. Terima kasih atas gelak tawa, perdebatan di kelas, rasa saling dukung saat dikejar deadline tugas, hingga momen-momen menggelitik ketika kita sama-sama bingung menghadapi perkuliahan. Percayalah, tanpa kebersamaan kalian, masa-masa kuliah tentu akan terasa jauh lebih tawar dan melelahkan.


Terakhir, terima kasih kepada stakeholder terkait yang belum dapat saya mention satu per satu, yang telah menjadi bagian mikro maupun makro dalam struggle ini. Hari ini, sebuah bab telah legal saya generalisasikan, dan bab baru siap untuk saya tuliskan. Semoga ilmu yang saya peroleh bukan semata menjadi hiasan (S.H.) di belakang nama Ahmad Fauzi Muhana, melainkan keberkahan yang berdampak konkret bagi sesama.


Selamat wisuda untuk diri sendiri, dan sekali lagi, terima kasih Mama. Ini hadiah kecil dariku untukmu.


Sabtu, 10 Oktober 2026


Ahmad Fauzi Muhana, S.H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parameter dalam Pertemanan

Enam Puluh Lima Hari Merajut Asa dan Cerita di Desa Budi Mulya

Mengapa Kita Sering Menghakimi?