Hadiah Tak Seberapa dariku untuk Mama
Jika ada yang bertanya hari apa yang paling ku nantikan sekaligus ku hindari dalam hidupku, kiranya hari inilah jawabannya. Hari ketika sampul ijazah akhirnya berada dalam genggamanku, mortarboard yang terpasang rapi di kepalaku, dan senyum lega memancar di bibirku. Sebuah struggle panjang telah rampung. Namun, di balik keriuhan tepuk tangan di Pendopo Bupati, Hulu Sungai Selatan hari ini, ingatan saya justru melayang jauh ke belakang, yakni pada setiap tetes keringat, doa malam yang tak terputus, deretan kopi yang diseruput, dan sunyi yang mengiringi langkah struggle ini. Torehan hari ini sama sekali bukan ihwal saya seorang. Jika perjalanan kuliah ini diibaratkan sebagai sebuah pelayaran yang menerjang badai, maka ada deretan tangan yang sibuk merawat dayung, memperbaiki layar, hingga menjaga agar kapal ini tak karam, apalagi tenggelam. Ucapan terima kasih tertinggi, komprehensif, dan tak punya parameter seluas samudra, saya persembahkan untuk Mama. Ma, tulisan dan lembaran ijazah...