Bisakah Kembali Pulang Tanpa Dendam?

Sebelum melangkah pulang, mari kita rapikan hati dan pikiran terlebih dahulu. Mulailah merapikan hal-hal yang berasosiasi dengan orang-orang yang pernah melukai, keadaan yang tak pernah kita hendaki, keadilan yang tak kunjung datang menghampiri, serta kehilangan yang masih meninggalkan perih. Sebab, membawa seluruh beban tersebut tanpa batas waktu, tak akan pernah mengubah apa pun yang telah terjadi.


Sebagai manusia, kita mesti sadar bahwa ada hal-hal yang berada di eksternal kendali untuk diubah. Ada orang-orang yang kira-kira tak pernah mengerti meski telah dinasihati berkali-kali, serta ada orang yang kerap kesusahan yang barangkali belum dapat kata maaf dari seseorang. Oleh sebab itu, pada muaranya kita perlu belajar melepaskan secara perlahan.


Melepaskan bukan berarti menjustifikasi perbuatan buruk yang pernah kita toleransi, dan bukan pula mengindikasikan bahwa rasa sakit itu telah lenyap tanpa bekas. Step ini diambil sebab kita tak ingin menghabiskan sisa hidup hanya berputar-putar untuk membawa beban masa lalu. Walaupun lukanya mungkin belum sembuh seutuhnya, hal tersebut tak menjadi penghalang guna melangkah ke step berikutnya.


Esensinya, sebelum benar-benar pulang, letakkanlah perlahan apa yang selama ini kita genggam terlalu erat dan terkesan berlebihan dimata orang lain. Letakkanlah kemarahan, kekecewaan, dan rasa ketidakadilan itu yang telah sekian lama kita pendam.


Pada momen ini, beriringan dengan segala upaya perbaikan diri, hal-hal yang berada di luar jangkauan kapabilitas diri, sudah sepatutnya diserahkan kepada Tuhan. Sebab, kerap kali solusi terbaik atas kerumitan hidup, baru ditemukan saat kita berserah penuh kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perspektif Menentukan Rasa

Romantisme yang Sebenarnya

Parameter dalam Pertemanan