Katanya Aku Sosok yang Kaku dan Baku

Segelintir orang kerap mengenalku sebagai sosok yang kaku dan baku dalam bergaul. Aneh, bukan?! Kadang kala, aku pun mengiyakan dalam hati dan pikiran bahwa hal demikian memang betul yang ku idap dewasa ini. Lantas, apakah aku mesti berbenah agar tidak kaku dan baku? Padahal, aku merasa dengan kekakuan dan kebakuan tersebut, sedikit banyaknya aku telah menyajikan pengetahuan baru kepada mereka secara cuma-cuma. Ini bukan argumentasi pembalasan ataupun meninggi, yang bukan merasa bisa, tetapi bisa merasa. 


Namun, percayalah, begitulah pengejawantahan autentik diriku. Aku pernah mencoba menjadi sosok yang tak autentik atau bukan diriku yang hakiki, tetapi energiku justru habis dalam sekejap.


Kadang kala, aku dianggap terlalu banyak bicara, sehingga aku belajar untuk diam terbungkam. Akan tetapi, ketika aku diam, sikap diamku pun tetap dipandang sebagai suatu kekeliruan. Katanya, aku orang yang tidak seru, apalagi lucu, sehingga aku berupaya belajar melucu.


Menurut keyakinanku, setiap orang ingin versi diriku yang berbeda-beda agar selaras dengan kehendak mereka. Oleh sebab itu, aku mencoba menjadi segalanya. Menjadi sosok yang baik dan kadang jahat, pendiam dan banyak bicara, pintar dan dungu, acuh dan egois, menjadi anak yang berbakti dan kadang durhaka, bahkan menjadi sosok yang dianggap gila pun pernah kulakoni.


Ternyata, generalisasinya adalah aku memang senantiasa kurang bagi orang yang merasa lebih, dan senantiasa lebih bagi orang yang merasa kurang.


Ah, sudahlah. Kiranya hanya segelintir orang yang bakal memahami diriku secara utuh. Merekalah sosok yang senantiasa mengambil perspektif yang baik alih-alih berpikiran dangkal dan destruktif.


Aku haturkan terima kasih kepada orang-orang seperti itu. Semoga hajat yang kalian panjatkan segera dikabulkan oleh Yang Mahakuasa. Selain itu, aku sangat-sangat berterima kasih kepada Yang Mahakuasa yang telah dua kali menyelamatkanku.


Kamis, 6 Agustus 2026


AFM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perspektif Menentukan Rasa

Menakar Aksi Demonstrasi serta Insiden Tragis di Jakarta dan sekitarnya

Romantisme yang Sebenarnya