Menjadi Sosok yang Dirayakan
Ada satu hajat yang lahir secara senyap di sela-sela doaku. Sebuah asa yang barangkali terdengar bersahaja bagi khalayak, tetapi punya makna segalanya bagiku. Aku ingin kelak menjadi sosok pria yang senantiasa diupayakan eksistensinya. Perspektif ini kiranya terdengar tak biasa, atau bahkan diasumsikan tidak adil ketika sosok pria yang memohonkan hajat tersebut.
Namun, aku mendambakan dicinta oleh sosok perempuan yang enggan membiarkanku mengira-ngira posisi di hatinya. Aku ingin sosok yang langkahnya tidak dipenuhi kelabilan, yang upayanya tak pernah terasa sebagai beban, dan yang presensinya menjadi jawaban atas segala ketidakpastian serta ketidaktahuan yang selama ini ku peluk erat sendirian.
Barangkali, pada waktu yang lain, aku dapat merasakan bagaimana rasanya betul-betul dirayakan dan diupayakan. Perayaan tersebut tak perlu berupa pesta yang megah ataupun menggelegarnya kembang api, melainkan hal-hal bersahaja yang penuh ketulusan. Aku ingin dirayakan eksistensinya dikala aku merasa tidak diapresiasi oleh sesiapa. Dirayakan prestasinya serta tulisan bersahajanya dikala dunia terasa abai. Aku ingin menjadi rasionalisasi bagi seseorang untuk tersenyum dikala ia terbangun di pagi hari, serta menjadi sosok pertama yang paling ia cari.
Aku pun merindukan momen untuk diingatkan pada setiap hal kecil yang bersahaja. Ihwal bagaimana aku menyukai aroma kopi di setiap hari, ihwal ketakutan-ketakutan bersahaja yang jarang kuceritakan, atau ihwal binar di mataku dikala membicarakan hal-hal yang ku sukai. Aku ingin ada sosok yang membaca diriku bak ia menikmati film atau komik digital favoritnya yang dengan teliti, penuh hasrat keingintahuan, enggan melewatkan satu detik atau satu halaman pun, dan sepenuhnya menerima tanpa penghakiman.
Barangkali hari ini aku masih harus menjadi penjaga hati, baik bagi dirinya maupun bagi diriku. Akan tetapi, aku percaya bahwa kelak Yang Maha tengah menyiapkan satu waktu di mana aku tak perlu lagi meminta atensi, dan tak perlu lagi memohon guna dinomorsatukan. Sebab pada akhirnya, setiap hati yang tulus berhak memperoleh rumah yang paham metode merawatnya. Semoga di dalam rumah itu, ada sosok yang tak akan pernah bosan guna mengupayakan, merayakan, dan mengingatkan.
Komentar
Posting Komentar