Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Romantisme yang Sebenarnya

Gambar
Kepuasan dalam sebuah hubungan, acapkali terhalang oleh jeratan ekspektasi pribadi, terutama ihwal definisi romantis itu sendiri. Sudah menjadi hal yang niscaya, di mana seseorang kerap merasa pasangannya kurang romantis, sebab ia tidak memenuhi standar klisenya. Umpamanya, jarang menggandeng tangan di muka umum, jarang memberi kejutan, ataupun memberi bunga. Padahal, sudahkah kita memahami esensi sesungguhnya dari romantisme? Bagi saya, romantisme bukan semata mengikuti rutinitas ataupun standar sosial yang dipaksakan masuk ke dalam relasi. Romantisme adalah tentang upaya kolaboratif antara kedua belah pihak untuk menjaga atmosfer dalam hubungan, agar perasaan jatuh cinta dapat terus dirasakan secara berulang dan berkesinambungan, walaupun hubungan telah terjalin lama. Bahkan, ketika kita telah mengetahui segala kekurangan pasangan, kita masih bisa tertawa saat melihat tingkah lakunya yang menggemaskan ataupun menjengkelkan. Bentuk romantisme bukan semata terbatas pada pemberian bunga...

Mengurai Polemik Tayangan Trans 7: Jalan Keluar dari Sentimen

Gambar
Tayangan Trans 7 yang memantik polemik belakangan ini, telah melahirkan pertanyaan fundamental, apakah konten tersebut betul-betul keliru? Lepas dari problematika konten tersebut, saya sungguh prihatin melihat setiap kegaduhan di ruang publik kita, terutama di media sosial, senantiasa berakhir pada transaksi sentimen. Problematika substansi, acapkali tenggelam dalam pusaran emosionalitas dan rasa tersinggung belaka. Oleh sebab itu, mari kita telaah isu ini dari beberapa perspektif yang lebih jernih dan rasional. A. Maksud Kritik dan Kekeliruan Sasaran Trans 7 Dugaan kuat saya, Trans 7 berupaya menyampaikan kritik terhadap sebuah tradisi. Ironisnya, upaya tersebut jatuh ke dalam lubang subjektivitas yang fatal. Alih-alih menjadikan tradisi feodalisme sebagai objek kritik utamanya, mereka justru mengkritik kehidupan kyai dan santri di ponpes. Lebih jauh, narasi tayangan tersebut disayangkan karena diduga mengarah pada institusi dan figur kyai yang sangat dihormati. Intensi untuk mengkrit...

Bukan Tak Cinta, Hanya Saja Terbiasa Lupa

Gambar
Statement ihwal pasangan yang sering lupa memberikan kabar meskipun telah diingatkan berulang kali, kerap melahirkan interpretasi bahwa hal tersebut merupakan sebuah indikasi berkurangnya kasih sayang atau sikap apatis. Secara rasional, interpretasi semacam ini, perlu ditinjau lebih dalam. Kecenderungan lupa berkabar, acapkali bukan bersumber dari niat buruk ataupun perubahan perasaan, melainkan dari pengejawantahan pola perilaku yang telah menjadi kebiasaan. Dari perspektif lain, banyak tindakan manusia yang beroperasi secara otomatis, terlepas dari kondisi emosionalnya dewasa ini. Umpamanya, seseorang yang sejak kecil tidak mempunyai kebiasaan melaporkan aktivitasnya kepada orang tua ataupun kakaknya. Maka, akan secara inheren membawa pola ketidakterbiasaan tersebut ke dalam hubungan asmaranya. Dalam hal demikian, perilaku tersebut merupakan respons otomatis dari kebiasaan, bukan keputusan sadar yang didorong oleh minimnya perhatian. Terkadang, kita cenderung melakukan atribusi inter...

Jatuh Cinta Berlebihan Pasca-Kesepian

Gambar
Sebagian orang menunjukkan reaksi yang berlebihan ketika jatuh cinta, terutama pasca melewati masa kesepian yang panjang. Kondisi demikian, acapkali dipicu oleh kekosongan emosional yang telah lama dirasakan. Seseorang yang telah lama mengalami kesepian, rentan terhadap lonjakan intensitas perasaan yang tiba-tiba hadir. Ketika kehadiran seseorang yang baru mampu mengisi ruang hampanya, rasa senang yang timbul, begitu kuat. Seseorang tersebut, bak seolah-olah menemukan sumber kebahagiaan dan warna baru dalam hidupnya, yang sebelumnya terasa hambar atau abu-abu. Perasaan demikian, menciptakan euforia signifikan, yang acapkali diterjemahkan menjadi sikap mencintai yang melampaui batas kewajaran (berlebihan). Jatuh cinta pasca-kesepian panjang, juga kerap memicu kemelekatan emosional. Sebab, seseorang tersebut bukan semata mencintai pasangannya, melainkan pula melekat pada rasa hangatnya, amannya, dan terisi yang dibawa oleh presensi pasangannya. Rasa ini menjadi begitu berharga, sebab sek...

Selingkuh Adalah Cermin dari Kualitas Diri yang Rendah

Gambar
Perselingkuhan bukan semata kekeliruan atau kekhilafan lumrah dalam suatu hubungan, melainkan sebuah indikator konkrit betapa rendahnya kualitas diri seseorang. Menurut saya, paradigma ini perlu senantiasa ditegakkan. Sebab, di tengah banjir teknologi dewasa ini, kebiasaan buruk ini terkadang disalahartikan sebagai sebuah pencapaian ataupun bukti daya tarik. Padahal, faktanya justru berkebalikan. Orang yang betul-betul mempunyai kualitas diri yang unggul, seperti integritas, harga diri, dan kedewasaan emosional, bakal memandang perselingkuhan sebagai sebuah kemewahan yang tidak terjangkau. Bukan karena eksklusivitas materi, melainkan karena prinsip. Mereka sadar betul akan citra diri dan prinsip yang mereka junjung tinggi. Bagi mereka, mempertahankan integritas, jauh lebih bernilai. Mereka akan memilih untuk single dalam waktu yang panjang, daripada harus menurunkan level dan mengkhianati komitmen yang telah dibuat. Keputusan untuk setia merupakan cerminan dari kontrol diri dan apresia...

Presentasi Selama Satu Semester?!

Gambar
Fenomena penugasan presentasi mahasiswa secara berkesinambungan selama satu semester, telah menjadi sorotan serius dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia hari ini. Praktik ini ditengarai bukan semata anomali, melainkan telah meluas dan menciptakan pertanyaan fundamental ihwal kualitas pengajaran dan seorang dosen. Skenario yang umum terjadi adalah dosen pada pertemuan pertama, hanya mengedarkan silabus yang mayoritas subtansinya adalah jadwal presentasi kelompok, dan itu biasanya dimulai dari pertemuan kedua hingga akhir semester. Dalam perealisasiannya, dosen acapkali kurang dan bahkan tidak berperan secara aktif. Dosen cenderung duduk di belakang ataupun diam di tempat. Terkadang sibuk dengan gawai ataupun menatap laptop. Bahkan, dalam kasus terburuk, dosen tidak hadir di kelas. Kondisi demikian, tentunya menyulitkan mahasiswa yang kemudian mengajar teman-temannya hanya dengan pengetahuan seadanya, ditambah menggunakan materi presentasi yang kadang kala dibuat secara SKS (Siste...

Kedewasaan Mahasiswa dalam Diferensiasi Perkuliahan

Gambar
Perjalanan perkuliahan dan pertumbuhan pribadi mahasiswa, sesungguhnya merupakan proses yang relatif dan khas bagi setiap entitas. Bak dua tanaman yang tumbuh berdampingan, keduanya mendapatkan perawatan, baik air, sinar matahari, dan perlindungan dari angin sebagai simbol lingkungan pendidikan dan pengayaan pengetahuan yang setara. Namun, ketidakhomogenan perkembangan, semestinya menjadi hal yang alamiah. Karena, setiap entitas mempunyai potensi, motivasi, dan kapasitas tersendiri. Ketika salah satu tanaman mulai tumbuh lebih besar dengan akar yang lebih dalam serta cabang yang lebih lebar, ini mengindikasikan adanya proses internalisasi ilmu yang lebih masif, dan kedewasaan berpikir, serta perluasan cakrawala intelektual. Dalam perkuliahan, hal demikian memperlihatkan akan pemahaman yang komprehensif, petualangan intelektual, dan keperluan guna memperoleh ruang kebebasan berinovasi yang lebih luas. Pada level ini, menyelaraskan lingkungan akademik dan strategi belajar, menjadi amat k...

Elegi Puncak Nurani Untuk Iga Dwi Febrianti

Gambar
Sabtu, 27 September 2025 merupakan hari yang agung. Di bawah panji kehormatan ilmu pengetahuan, izinkan segenap rasa dan sukma ku merangkai kata. Kau berdiri tegak, memancarkan aura keberhasilan yang selama ini kau rajut dalam senyap doa dan gigih upaya. Gelar S. Pd yang kini melekat pada mu, merupakan mahkota yang tersemat dari keringat, air mata, dan semangat tiada habisnya. Ingatlah, ini bukan semata indikasi akhir perjuangan akademis, melainkan permulaan dari babak bakti yang mulia, mendidik generasi, dan realisasi sebuah aksi. Meskipun kebersamaan kita terjalin saat engkau menapaki semester enam, aku sungguh bangga menyaksikan metamorfosismu, dari bimbang menjadi yakin, dan dari merangkak menjadi terbang. Setiap lembar diktat yang kau cerna, setiap diskusi yang kau cermati, dan setiap kata yang kau tuliskan, merupakan jejak langkah menuju puncak ini. Aku bangga! Lebih dari kata yang bisa diucapkan oleh lisan, dan lebih dari aksara tinta yang bisa direpresentasikan. Kini, kau telah...