Selamat Hari Raya Kita


Dahulu, kuanggap merayu merupakan tindakan bersahaja, cukup lewat kata rindu yang diejawantahkan dengan segera. Akan tetapi, kini lidahku kaku dan jemariku bergetar, bak mahasiswa yang kehilangan jawaban saat ujian tengah mengejar. Padahal, pertanyaannya sekedar ihwal sisa perasaan, apakah masih ada sayang atau sekadar bayangan?!


Selamat hari raya kita, Sayang!


Jikalau keras kepalaku mulai terasa memuakan, suguhkan aku petuah sebagai bentuk peringatan. Namun kumohon, jangan ada penghakiman dalam ketikan, perasaan maupun tatapan, sebab aku pun tengah berupaya melunakkan keangkuhan.


Apabila heningku ternyata melahirkan luka, tolong ingatkan aku bahwa suara adalah kunci segalanya. Sebagaimana aku yang lantang dalam ruang diskusi, aku ingin kita terus-menerus bertukar diksi tanpa ada yang beralih fungsi. Kau tak perlu lihai dalam merangkai rasa maupun kata, cukup jangan abai agar cinta kita senantiasa terjaga.


Andaikata lelah mulai dan tengah membersamai langkahmu, katakan bahwa setiap manusia punya batas waktu. Agar aku sadar untuk segera berbenah diri, demi menjaga kesempatan yang kiranya tak datang dua kali.


Tiada terhingga aku kumandangkan kata maaf dan terima kasih, untukmu yang tetap setia dan tak pernah beralih.


Selamat mengulang tanggal 13 Mei kesekian yang penuh makna, semoga kita senantiasa bersama selamanya hingga raga tak lagi ada.


(13 Mei)

- Ahmad Fauzi Muhana dan Iga Dwi Febrianti


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Merajut Masa Depan Hukum di Tapin

Selamat Sarjana, Sayang