Secercah Bocoran Rasa dalam Aksara

Apabila pada akhirnya aku jatuh cinta kepada seseorang, bersiaplah guna menjadi abadi, setidaknya dalam aksaraku.


Bagi diriku, mencintai seseorang artinya melimpahkan seluruh kunci ingatan agar ia merdeka berkelana di antara barisan diksi dan kalimat yang kurangkai. Tentu, sosoknya tidak akan pernah padam. Ia akan senantiasa hidup, bernapas, dan bermukim di dalam setiap tanda titik dan koma yang kutitipkan di blog pribadiku.


Seperti pada umumnya, dunia akan menyaksikan ia sebagai manusia biasa yang tumbuh dan menua. Akan tetapi, di dalam duniaku, dan di dalam setiap lembar yang kutulis, ia akan senantiasa menjadi pagi yang paling tenang. Aku akan menjaganya dari kesunyian yang mematikan dan dari kelalaian yang kejam. Aku akan meminjam deretan warna paling indah guna melukiskan senyumnya, agar siapa pun yang membaca tulisanku kelak, akan turut jatuh cinta pada pesonanya.


Jatuh cinta kepada seseorang merupakan janji guna tidak memarginalkan ia dan hilang ditelan waktu. Bahkan, apabila suatu hari kelak langkah kita tak lagi selaras, atau dikala kebisingan dunia membuat suara kita bungkam, namanya akan menjadi roh dalam setiap paragraf yang lahir dari jemari dan pikiranku. Ia akan menjelma menjadi tulisan nan indah, frasa yang paling jujur, dan rahasia paling mempesona guna dibaca berulang hingga lelah berkata padaku "sudahlah".


Sebab bagiku, menulis merupakan salah satu metode terbaik guna mencintai dirinya tanpa parameter. Selama kertas dan tintaku masih ada, serta selama jari dan pikiranku bergoyang di atas kertas maupun papan tik, maka selama itulah ia akan tetap ada, utuh, indah, dan abadi bercahaya dalam setiap aksara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Merajut Masa Depan Hukum di Tapin

Selamat Sarjana, Sayang