Dampak Diksi; Dari Manipulasi Hingga Transformasi


Terkadang seseorang dalam berbicara ada yang ceplas-ceplos dan ada pula yang perlu waktu untuk melontarkannya. Sebetulnya, kedua style berbicara tersebut bagus, asalkan pemilihan diksinya tepat.


Pemilihan diksi yang tepat, dapat menjadi kekuatan yang kuat guna mempengaruhi persepsi dan respons khalayak. Pemilihan diksi yang tepat, juga dapat membuka pintu penerimaan pesan. Sedangkan pemilihan diksi yang keliru, dapat memacetkan komunikasi dan bahkan melahirkan implikasi negatif.


Umpamanya, disuatu hari, Si A mengkritik pemerintah karena banyak terjadi kasus pelanggaran aturan yang dilakukan masyarakat di kota A. Lalu, Si A ini melontarkan kalimat kritik, "Pemerintah kota A harus (menekan) masyarakatnya untuk patuh pada aturan."


Beberapa dari pendengar tentunya menginterpretasikan kalimat tersebut sebagai aksi kritik yang justru menjerumuskan masyarakat terkena represi dari pemerintah guna taat aturan.


Mari kita coba revisi sedikit kalimat tersebut menjadi, "Pemerintah kota A harus (mendorong) masyarakatnya untuk patuh pada aturan."


Kalimat sebelumnya dan kalimat yang telah direvisi ini mempunyai muara dan makna yang serupa, namun ada hal diferensiasi hermeneutik diantara keduanya.


Kalimat sebelumnya memuat diksi (menekan). Diksi tersebut mempunyai konotasi yang beragam, salah satunya ialah represi (intimidasi) yang dapat melahirkan persepsi negatif pada sebagian khalayak. Sedangkan pada kalimat yang telah direvisi, ada revisi di bagian diksi "menekan" menjadi "mendorong". Diksi "mendorong" sendiri mempunyai konotasi yang positif, seperti memotivasi, menasehati, mengedukasi, dan lain sebagainya. Sehingga, ini dapat lebih diterima tanpa adanya rasa skeptisisme dari khalayak.


Nah, apabila seseorang hebat dalam memilih diksi, maka ia dapat dengan mudah memanipulasi, menyampaikan kebohongan, dan bahkan dapat mentransformasi hidup seseorang. Perlu di ingat dan dicatat, bahwa tulisan ini bukan bermuara untuk mengorientasikan pembaca agar melakukan hal negatif pasca mempelajari pemilihan diksi. Akan tetapi, untuk menyempurnakan pesan yang disampaikan supaya tidak ada multitafsir yang menjerumuskan pada hal-hal negatif.


Ada sebuah buku yang dapat menjadi bahan bacaan guna mempelajari pemilihan diksi, buku tersebut berjudul "Retorika" dari Aristoteles. Dalam buku tersebut nantinya akan dikulik ihwal yang namanya etos, patos dan logos. Semoga, buku tersebut dan tulisan ini dapat menjadi sebuah titik awal yang sangat baik guna melahirkan skill komunikasi, memilih diksi, storytelling dan public speaking agar berkembang lebih pesat. 


Akhirnya, diksi merupakan instrumen komunikasi yang powerful. Dengan memilih diksi yang tepat dan bijak, seseorang dapat menyampaikan pesan dengan lebih efektif, melahirkan relasi ber-atmosfer positif dan pastinya untuk memudahkan menggapai muara yang mulia.


"Bijaklah dalam memilih diksi."


Berikan opini random Anda pada kolom komentar dibawah, ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365