Beasiswa Bukan Jalan Keluar Problema Pendidikan


Penulis antusias terhadap eksistensi Malaka Project dengan wacana "Menuju Masyarakat Baru". Bingkai wacananya pun melalui pendidikan. Sebuah bingkai yang sudah lama gagal diurus Indonesia.


Tak hanya itu, ada pengadopsian nama "Malaka" yang kata dari salah satu founder-nya, diambil dari nama Bapak Republik kita, Tan Malaka. Lalu, menjadikan MADILOG sebagai salah satu dasar presentasi didalamnya. 


Akan tetapi, ketika mengetahui program pertama Malaka Project ialah beasiswa pendidikan, seketika konsep masyarakat baru bermadilog dikepala penulis ambruk.


Justru sebab ingin bermadilog, penulis mengasumsikan program beasiswa atas nama pendidikan itu mesti dipersoalkan. Tak relevan dengan optimisme Tan Malaka yang revolusionis.


Beasiswa bukan hal yang baru. Negeri ataupun swasta sama-sama mempunyai motif memenuhi keperluan pendidikan pada individu-masyarakat lewat program beasiswa.


Sebetulnya program beasiswa sendiri bentuk dari tesis, antitesis, atau sintesis? Jika betul-betul hendak berdialektika, problema ini mesti diurai terlebih dahulu.


Jadi, Malaka Project sedang mendialektikan apa? Apa sintesis dari Malaka Project terhadap pendidikan? Guna menjawab hal tersebut tentu diperlukan antitesis terlebih dahulu. Apakah beasiswa merupakan antitesis tersebut?


Jika diperhatikan lebih jauh, seksama dan struktural, metode kerja beasiswa tak jauh berbeda dengan perbuatan barang yang mensyaratkan kesiapan.


Apabila sekolah bermutu dan berkualitas hanya mempunyai kalangan tertentu, beasiswa dapat dikatakan pula sama saja. Ia memang disediakan guna KALANGAN TERTENTU JUGA.


Walaupun bingkainya beasiswa warga miskin, tetap saja kiat kerjanya menyeleksi siapa orang miskin yang kompatibel dan relevan dengan kriteria beserta syaratnya (umpanya aktif bahasa Inggris, mencari pengetahuan, relasi dan panduan-panduan lainnya).


Penentu siapa yang berhak memperoleh beasiswa sebetulnya bukan perkara syarat dan kiat-kiat pendaftarannya, namun pada atribut yang menempel pada individu itu sendiri (modal, materi, preparation, idealisme, kecerdasan, arena dan intelektual).


Semua itu pada akhirnya mengerucut pada gelanggang persaingan pasar bebas individu. Jika dirangkum akan menjadi seperti sekolah bermutu dan pendidikan berkualitas gagal dicapai masyarakat luas, sehingga hadirlah beasiswa guna membantu golongan yang kalah saing, namun dengan kiat persaingan pula.


Untuk memperoleh pendidikan bermutu, rakyat sebetulnya tak perlu bersaing secara modal, kesiapan, arena dan nasib. Sebab, pendidikan merupakan hak dasar yang sudah sepantasnya diperoleh warga negara secara BERKEADILAN DAN MERATA.


"Pendidikan itu mesti merakyat."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Proposal Skripsi Ku

Selamat dan Terus Bergerak, Sayangku

Hari Ke-365