Berteman Saat Ada Perlunya Saja
Kita ketahui bersama bahwa pertemanan adalah aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang menyediakan dukungan sosial, rasa saling mempunyai dan eskalasi kebahagiaan. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, individu menjalin pertemanan ada saja yang mempunyai motif terselubung. Misalnya, hanya memanfaatkan orang lain saat ia memerlukan. Fenomena berteman saat ada perlunya saja ini melahirkan sebuah pertanyaan ihwal etika dan implikasinya pada individu maupun pertemanannya.
Dilihat dari perspektif yang pertama ialah saling menguntungkan. Pertemanan yang didasari oleh saling tolong menolong dan mendukung dianggap lumrah dan menguntungkan kedua belah pihak. Individu saling membantu dalam menyelesaikan tugas, memberikan beberapa bantuan yang diperlukan dan lain sebagainya.
Contohnya, bekerjasama dalam mengerjakan suatu tugas dengan sama-sama memanfaatkan kapabilitas masing-masing, meminjamkan kendaraan, uang dan lain-lain.
Di perspektif lain, hal ini justru dapat menjerumus pada eksploitasi dan kepentingan. Pertemanan yang hanya berdasar oleh kepentingan pribadi dianggap sebagai salah satu bentuk eksploitasi. Individu memanfaatkan orang lain guna keuntungan pribadinya semata, tanpa menunjukkan rasa saling percaya dan respect.
Contohnya, hanya akrab ketika ingin meminta bantuan, menghilang dan acuh setelah memperoleh bantuan dari teman, dan lain-lain.
Hal ini perlu di kritik, salah satu dari sekian banyak kritiknya ialah hal ini dapat memperkuat kultur materialisme. Jadi, pertemanan yang hanya bersandar pada kepentingan belaka dapat memperkuat kultur ini. Sebab, individu hanya berteman dengan khalayak hanya apa yang mereka punya.
Kritik diatas dapat diatasi dengan adanya komunikasi yang inklusif dan berintegritas serta saling mengapresiasi.
Selain itu, kita mesti tau ihwal hal diferensiasi antara dimanfaatkan dan dipercayai. Ini dapat dilihat ketika seseorang berpikir secara objektif dengan melakukan analisis yang tenang dan komprehensif.
Dalam beberapa kesempatan, penulis mengajak diskusi bersama teman. Disana penulis menanyakan ihwal berteman ketika ada perlunya saja. Lalu, teman penulis mendalilkan bahwa “Semakin kita tumbuh tua, maka kita semakin jarang dan tidak selalu bersua dengan teman. Oleh karena itu, kita berteman ketika memerlukan sesuatu disela kesibukan masing-masing. Hal ini mengindikasikan bahwa kita telah beranjak dewasa, bukan seperti anak kecil yang senantiasa bersua dengan temannya setiap harinya.”
Hal diatas memang betul. Akan tetapi, kita mesti kembali pada klasifikasi diferensiasi antara dimanfaatkan dan dipercayai.
Jadi, Anda memilih opsi yang mana? Teman berkualitas? Atau teman kuantitas?
Berikan opini random Anda pada kolom komentar dibawah.
Instagram: @fauzimuhanaa
Tiktok: @zimuhana
.jpeg)
Teman berkualitas dongg
BalasHapus